Social Icons

facebookgoogle pluslinkedinrss feedemail
Tampilkan postingan dengan label Psikologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Psikologi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 21 September 2014

Pengertian Karakter

       Menurut bahasa (etimologis) karakter berasal dari bahasa Latin kharakter, kharassein, dan kharax, istilah dalan bahasa Yunani dari kata charassein, yang berarti membuat tajam dan membuat dalam. Dalam bahasa Inggris character dan dalam bahasa Indonesia lazim digunakan dengan istilah karakter (Majid dalam Gunawan, 2012:1). Sementara itu, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional kata karakter berarti sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dengan yang lain, atau bermakna bawaan, hati, jiwa, kepribadian, budi pekerti, perilaku, personalitas, sifat, tabiat, temperamen, dan watak.
Karakter dimaknai sebagai cara berfikir dan berperilaku yang khas tiap individu untuk hidup dan bekerja sama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. Individu yang berkarakter baik adalah individu yang dapat membuat keputusan dan siap mempertanggungjawabkan setiap akibat dari keputusannya. (Samani & Hariyanto, 2013:41)
Sementara menurut istilah (terminologis) terdapat beberapa pengertian tentang karakter, sebagaimana telah dikemukakan oleh beberapa ahli, diantaranya adalah sebagai berikut:
1. Hornby and Parnwell dalam Gunawan (2012:2). Karakter adalah kualitas mental atau moral,               kekuatan moral, nama atau reputasi.
2. Musfiroh dalam Gunawan (2012:2) menyatakan bahwa karakter mengacu kepada serangkaian           sikap (attitudes), perilaku (behaviours), motivasi (motivations), dan keterampilan (skills). Karakter     berasal dari bahasa Yunani yang berarti tomark atau menandai dan memfokuskan bagaimana               mengaplikasikan nilai kebaikan dalam bentuk tindakan atau tingkah laku.
3. Kertajaya dalam Gunawan (2012:2) mendefinisikan bahwa karakter adalah ciri khas yang dimiliki     oleh suatu benda atau individu (manusia). Ciri khas tersebut adalah asli, dan mengakar pada                 kepribadian benda atau individu tersebut dan merupakan mesin pendorong bagaimana seseorang         bertindak, bersikap, berujar, serta merespon sesuatu.
4. Philips dalam Gunawan (2012:2) menyatakan bahwa karakter adalah kumpulan tata nilai yang           menuju pada suatu sistem, yang melandasi pemikiran, sikap dan, perilaku yang ditampilkan.
5. Koesoema dalam Gunawan (2012:2) memahami bahwa karakter sama dengan kepribadian.                 Kepribadian dianggap sebagai ciri atau karakteristik atau gaya atau sifat khas dari diri seseorang         yang bersumber dari bentukan-bentukan yang diterima dari lingkungan.
6. Ghozali dalam Gunawan (2012:2) menganggap bahwa karakter lebih dekat dengan akhlaq, yaitu         spontanitas manusia dalam bersikap, atau melakukan perbuatan yang telah menyatu dalam diri           manusia sehingga ketika muncul tidak perlu dipikirkan lagi.

Ciri-ciri Motivasi Berprestasi

          Atkinson (1982) dalam Sujarwo (2013) mengemukakan bahwa seseorang yang memiliki motivasi berprestasi tinggi memiliki ciri-ciri sebagai berikut: a) memiliki tanggung jawab yang tinggi pada tugasnya, b) menetapkan tujuan yang menantang, sulit dan realistik, c) memiliki harapan sukses, d) melakukan usaha yang keras untuk mencapai kesuksesan, e) tidak memikirkan kegagalan, dan f) berusaha memperoleh hasil yang terbaik. McCelland dalam Uno (2009: 47) menandai sifat-sifat dasar orang awam dengan kebutuhan pencapaian yang tinggi, yaitu: “(1) Selera akan keadaan menyebabkan seseorang dapat bertanggungjawab secara pribadi, (2) Kecenderungan menentukan sasaran-sasaran yang pantas (sedang) dan memperhitungkan resikonya, dan (3) Keinginan untuk mendapatkan umpan balik yang jelas atas kinerja”.
         Berdasarkan ciri-ciri di atas dapat disimpulkan bahwa siswa yang memiliki motivasi berprestasi tinggi adalah siswa yang selalu berusaha keras untuk dapat mencapai prestasi yang terbaik dengan cara selalu bertanggung jawab dengan tugas yang diberikan. Siswa ini juga menyukai tugas yang tingkatannya sedang dan sulit karena akan membuat siswa tersebut tertantang.

Daftar Rujukan:
Sujarwo.2013. Motivasi Berprestasi Sebagai Salah Satu Perhatian Dalam Memilih Strategi Pembelajaran
Uno, H.B. 2009. Perencanaan Pembelajaran. Jakarta: PT. Bumi Aksara.

Teori Motivasi Berprestasi

          Banyak sekali teori-teori kebutuhan dalam ilmu psikologi salah satunya adalah teori kebutuhan berprestasi (Need for Achivement ). Teori ini dikemukakan oleh McClelland seorang ahli pskologi sosial yang mengadakan penelitian tentang motivasi berprestasi. Penelitian ini menyatakan bahwa “achievement in student is a natural desire possessed by them to accomplish something that might not necessarily be connected with work(Khan, 2003:59). Artinya prestasi siswa adalah keinginan alami yang dimiliki oleh mereka untuk mencapai sesuatu yang mungkin tidak selalu dihubungkan dengan pekerjaan. Hal ini menunjukkan bahwa motivasi berprestasi berasal dari dalam diri siswa atau bersifat intrinsik.
          McClelland dalam Sujarwo (2013) juga  menjelaskan bahwa need for achievement yaitu sebagai suatu dorongan pada seseorang untuk berhasil dalam kompetisi dengan suatu standar keunggulan (standart of excellence). Lebih lanjut McClelland mengemukakan bahwa motivasi berbeda-beda, sesuai dengan kekuatan dan kebutuhan seseorang akan prestasi (Laba, 2010:5). Jadi dapat disimpulkan bahwa motivasi berprestasi ini tergantung pada seberapa tingginya kekuatan/kemauan orang tersebut untuk sukses dan seberapa tinggi kekhawatiran seseorang mengalami kegagalan.
         Teori motivasi berprestasi juga dikemukakan oleh Atkinson. Atkinson berpendapat bahwa kecenderungan untuk menggunakan aktivitas tertentu berhubungan dengan keyakinan bahwa aktivitas (tingkah laku) tersebut akan menuntun kepada suatu tujuan tertentu (Laba, 2010). Atkinson dalam Schunk (2012:492) menyatakan ada dua aspek yang mendasari motivasi berprestasi yaitu “harapan untuk berhasil dan penghindaran (ketakutan dalam kegagalan). Tindakan berprestasi akan membawa kemungkinan untuk berhasil dan gagal”. Adanya dua kemungkinan itu membuat seseorang berusaha semaksimal mungkin untuk menghindari kegagalan dan dapat mencapai keberhasilan.
Usaha menghindari kegagalan dapat diartikan sebagai upaya mengerjakan tugas seoptimal mungkin, agar tidak gagal dalam memperoleh kesempatan yang akan datang. Demikian juga usaha untuk berhasil dapat menjadi pendorong yang memberikan kepercayaan diri, sehingga mampu melakukan sesuatu dengan sukses, dengan mempertimbangkan kemampuan untuk menghindari kegagalan. Adanya harapan untuk berhasil mendorong seseorang akan berusaha semaksimal mungkin untuk mengerjakan tugas-tugasnya dengan mempertimbangankan kemampuan yang dimilikinya agar terhindar dari kegagalan.

Daftar Rujukan:
Khan, W. A. 2003. Teaching Motivation. India: Discovery Publishing House.
Laba, I.W. 2010. Pengaruh Metode Resitasi Tugas dan Motivasi Berprestasi Terhadap Hasil Belajar Matematika di SMA                                   Negeri 1 Manggis      
Schunk, D.H., Printrich, P.R., Meece, JL. Tanpa Tahun. Motivasi Dalam Pendidikan Teori, Penelitian, Dan Aplikasi.                                       Terjemah Ellys Tjo. 2012 Jakarta: Indeks
Sujarwo.2013. Motivasi Berprestasi Sebagai Salah Satu Perhatian Dalam Memilih Strategi Pembelajaran,