Social Icons

facebookgoogle pluslinkedinrss feedemail

Minggu, 21 September 2014

Klasifikasi Relationship Marketing

 Menurut Gummesson dalam Foster (2008:116), hubungan relationship marketing dikelompokkan sebagai berikut:
  1. Market relationship (hubungan pasar), yaitu hubungan antara pemasok (supplier), pelanggan (customer), kompetitor (competitor), dan lain-lain yang beroperasi di pasar. Market relationship (hubungan pasar) terdiri dari:
  • Classic market relationship (hubungan klasik pasar) yang meliputi supplier customer dyad, triad of supplier-customer competitor atu meliputi jaringan distribusi fisik.
  • Special market relationship yang merupakan aspek khusus di pasar yang meliputi interaksi dalam service encounter atau pelanggan sebagai anggota dari program loyalitas.
  1. Non-market relationship (hubungan non pasar), yaitu yang tidak langsung mempengaruhi efisiensi hubungan pasar (market relationship). Non market relationship (hubungn non pasar) yang terdiri dari:
  • Mega relationship yang meliputi masalah ekonomi dan masyarakat umumnya. Disini tercakup mega marketing (lobbying, pandangan masyarakat, dan kekuatan politik), mega alliances seperti NAFTA, dan hubungan sosial (social relationship) seperti persahabatan dan kelompok etnik.
  • Nano relationship yang meliputi hubungan antara internal customers dan internal markets (employee market).

Pengertian Relationship Marketing

         Menurut Kotler (1997:11) “relationship marketing adalah praktik membangun hubungan jangka panjang yang memuaskan dengan pihak-pihak kunci; pelanggan, pemasok, penyalur guna mempertahankan preferensi dan bisnis jangka panjang mereka”. Berry dalam Farid (2009:3) mendefinisikan “relationship marketing sebagai upaya menarik, memelihara, dan keseluruhan pelayanan organisasi dalam menjaga hubungan dengan pelanggan. Penjualan dan pelayanan kepada pelanggan yang ada dipandang sama pentingnya dalam menyukseskan pemasaran jangka panjang”.
Hal ini berarti bahwa penjualan baik akan dapat meningkatkan penjualan dan pelayanan yang baik adalah upaya untuk mempertahankan hubungan. Dengan demikian relationship marketing berfokus pada bagaimana cara mempertahankan pelanggan dan mempertahankan pelayanan kepada konsumen.

Parvatiyar dan Sheth (2002:4) memandang pemasaran relasional sebagai suatu orientasi yang mengembangkan interaksi yang erat dengan pelanggan terpilih, pemasok dan pesaing untuk penciptaan nilai melalui usaha kerjasama. Sedangkan menurut Chan (2003:6) “Relationship Marketing (RM) dapat didefinisikan sebagai: Pengenalan setiap pelanggan secara lebih dekat dengan menciptakan komunikasi dua arah dengan mengelola suatu hubungan yang saling menguntungkan antara pelanggan dan perusahaan”. Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa relationship marketing adalah pengenalan pelanggan dengan membangun hubungan yang lebih dekat dan memuaskan dengan menciptakan komunikasi dua arah untuk memlihara bisnis dan preferensi dalam jangka panjang.

Pengertian Karakter

       Menurut bahasa (etimologis) karakter berasal dari bahasa Latin kharakter, kharassein, dan kharax, istilah dalan bahasa Yunani dari kata charassein, yang berarti membuat tajam dan membuat dalam. Dalam bahasa Inggris character dan dalam bahasa Indonesia lazim digunakan dengan istilah karakter (Majid dalam Gunawan, 2012:1). Sementara itu, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional kata karakter berarti sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dengan yang lain, atau bermakna bawaan, hati, jiwa, kepribadian, budi pekerti, perilaku, personalitas, sifat, tabiat, temperamen, dan watak.
Karakter dimaknai sebagai cara berfikir dan berperilaku yang khas tiap individu untuk hidup dan bekerja sama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. Individu yang berkarakter baik adalah individu yang dapat membuat keputusan dan siap mempertanggungjawabkan setiap akibat dari keputusannya. (Samani & Hariyanto, 2013:41)
Sementara menurut istilah (terminologis) terdapat beberapa pengertian tentang karakter, sebagaimana telah dikemukakan oleh beberapa ahli, diantaranya adalah sebagai berikut:
1. Hornby and Parnwell dalam Gunawan (2012:2). Karakter adalah kualitas mental atau moral,               kekuatan moral, nama atau reputasi.
2. Musfiroh dalam Gunawan (2012:2) menyatakan bahwa karakter mengacu kepada serangkaian           sikap (attitudes), perilaku (behaviours), motivasi (motivations), dan keterampilan (skills). Karakter     berasal dari bahasa Yunani yang berarti tomark atau menandai dan memfokuskan bagaimana               mengaplikasikan nilai kebaikan dalam bentuk tindakan atau tingkah laku.
3. Kertajaya dalam Gunawan (2012:2) mendefinisikan bahwa karakter adalah ciri khas yang dimiliki     oleh suatu benda atau individu (manusia). Ciri khas tersebut adalah asli, dan mengakar pada                 kepribadian benda atau individu tersebut dan merupakan mesin pendorong bagaimana seseorang         bertindak, bersikap, berujar, serta merespon sesuatu.
4. Philips dalam Gunawan (2012:2) menyatakan bahwa karakter adalah kumpulan tata nilai yang           menuju pada suatu sistem, yang melandasi pemikiran, sikap dan, perilaku yang ditampilkan.
5. Koesoema dalam Gunawan (2012:2) memahami bahwa karakter sama dengan kepribadian.                 Kepribadian dianggap sebagai ciri atau karakteristik atau gaya atau sifat khas dari diri seseorang         yang bersumber dari bentukan-bentukan yang diterima dari lingkungan.
6. Ghozali dalam Gunawan (2012:2) menganggap bahwa karakter lebih dekat dengan akhlaq, yaitu         spontanitas manusia dalam bersikap, atau melakukan perbuatan yang telah menyatu dalam diri           manusia sehingga ketika muncul tidak perlu dipikirkan lagi.

Definisi Loyalitas Pelanggan

        Tandjung (2004:121), menguraikan definisi loyalitas pelanggan sebagai berikut:
a. Pelanggan yang melakukan pembelian ulang secara teratur.
b. Pelanggan yang membeli produk dari lini produk yang lain. Misalnya disamping membeli buku           tulis juga membeli es krim di tempat yang sama.
c. Pelanggan yang mereferensikan kepada orang lain
d. Pelanggan yang tidak dipengaruhi oleh pesaing untuk pindah
Selanjutnya Clancy dan Shulman dalam Tjiptono (2005:102) mengemukakan bahwa:
Loyalitas konsumen merupakan komitmen dan perilaku pembelian konsumen terhadap suatu produk atau jasa, sedangkan loalitas terdiri atas seberapa tingkatan dan tiap tingkatan terdapat tingkatan komitmen yang berbeda. Semakin tinggi tingkatan loyalitas akan memungkinkan pembelian berkelanjutan terhadap produk.
         Dari definisi-definisi diatas, dapat ditarik kesimpulan bahwa loyalitas pelanggan merupakan perilaku dari pelanggan yang melakukan pembelian berulang dari suatu tempat secara teratur dan mereferensikan kepada orang lain serta tidak memilih pesaing lainnya. Dalam hal ini ada tiga karateristik penting dalam mengenali loyalitas pelanggan yaitu pembelian berulang, peningkatan proporsi pembelanjaan dan merekomendasikan kepada orang lain.
         Tujuan utama atau misi dari setiap perusahaan adalah mencapai tingkat loyalitas yang tinggi dari konsumen. Hal ini dikarenakan dengan mendapatkan sikap loyalitas dari konsumen berarti perusahaan dihadapkan kepada keuntungan di tambah lagi apabila penerapannya dalam jangka panjang maka sudah dapat dipastikan bahwa perusahaan akan menerima keuntungan jangka panjang pula.

Daftar Rujukan:
Tanjung, J, W. 2004.Marketing manajemen. Malang : Penerbit PT Banyu Media Publishing.
Tjiptono, F. 2005. Strategi Bisnis dan Manajemen. Yogyakarta: Andi offset.

Ciri-ciri Motivasi Berprestasi

          Atkinson (1982) dalam Sujarwo (2013) mengemukakan bahwa seseorang yang memiliki motivasi berprestasi tinggi memiliki ciri-ciri sebagai berikut: a) memiliki tanggung jawab yang tinggi pada tugasnya, b) menetapkan tujuan yang menantang, sulit dan realistik, c) memiliki harapan sukses, d) melakukan usaha yang keras untuk mencapai kesuksesan, e) tidak memikirkan kegagalan, dan f) berusaha memperoleh hasil yang terbaik. McCelland dalam Uno (2009: 47) menandai sifat-sifat dasar orang awam dengan kebutuhan pencapaian yang tinggi, yaitu: “(1) Selera akan keadaan menyebabkan seseorang dapat bertanggungjawab secara pribadi, (2) Kecenderungan menentukan sasaran-sasaran yang pantas (sedang) dan memperhitungkan resikonya, dan (3) Keinginan untuk mendapatkan umpan balik yang jelas atas kinerja”.
         Berdasarkan ciri-ciri di atas dapat disimpulkan bahwa siswa yang memiliki motivasi berprestasi tinggi adalah siswa yang selalu berusaha keras untuk dapat mencapai prestasi yang terbaik dengan cara selalu bertanggung jawab dengan tugas yang diberikan. Siswa ini juga menyukai tugas yang tingkatannya sedang dan sulit karena akan membuat siswa tersebut tertantang.

Daftar Rujukan:
Sujarwo.2013. Motivasi Berprestasi Sebagai Salah Satu Perhatian Dalam Memilih Strategi Pembelajaran
Uno, H.B. 2009. Perencanaan Pembelajaran. Jakarta: PT. Bumi Aksara.