Social Icons

facebookgoogle pluslinkedinrss feedemail

Minggu, 21 September 2014

Manfaat Relationship Marketing

 Menurut Tjiptono (2008:476) adalah bahwa manfaat relationship marketing bagi perusahaan terdiri atas manfaat langsung dan manfaat tidak langsung. Manfaat langsung berupa:
  1. Biaya yang lebih rendah (seperti biaya pemasaran, biaya administrasi, biaya waktu untuk mengenal konsumen, dan lain-lain).
  2. Volume pembelian yang lebih besar, baik menyangkut jumlah dana yang dibelanjakan maupun tipe jasa yang dibeli.
  3. Premium harga atas layanan yang lebih unggul.
  4. Komunikasi gethok tular positif.
Manfaat langsung ini berkontribusi pada marjin yang lebih besar dan pada gilirannya meningkatkan probabilitas perusahaan. Manfaat tidak langsung RM bagi perusahaan adalah retensi karyawan, karena orang biasanya lebih suka bekerja di perusahaan yang pelanggannya loyal dan puas. Iklim organisasi semacam ini sangat kondusif bagi peningkatan kepuasan kerja dan produktivitas karyawan. Apabila pelanggan internal (karyawan) puas dan loyal, maka mereka akan lebih termotivasi untuk memuaskan pelanggan eksternal.


Dari pendapat tersebut dapat dilihat bahwa relationship marketing banyak membawa keuntungan bagi perusahaan, terutama untuk keuntungan jangka panjang perusahaan. Karena dengan relationship marketing, perusahaan akan memiliki pelanggan yang loyal, dan hal itu akan membawa keuntungan bagi perusahaan dalam hal profit, peningkatan jumlah pelanggan, dan juga pengembangan produk perusahaan.

Tujuan Relationship Marketing

Relationship marketing merupakan strategi pemasaran yang mengutamakan hubungan dengan pelanggannya. Penerapan strategi pemasaran ini, memiliki tujuan utama yang berurutan. Seperti yang diungkapkan oleh Chan (2003:6), bahwa tujuan relationship marketing ini adalah:
  1. Menemukan Lifetime Value (LTV)
Tujuan ini yaitu menemukan LTV, menurut Chan (2003:89) pengertian customer lifetime value yaitu “Lifetime value pada dasarnya adalah net present value dari profit yang dihasilkan oleh rata-rata pelanggan dalam waktu tertentu. Semakin lama seseorang menjadi pelanggan, maka semakin besar value pelanggan tersebut bagi perusahaan”.
  1. Memperbesar life time value pada masing-masing kelompok
Memperbesar life time value pada tiap-tiap kelompok setelah perusahaan mengetahui customer life time value dari tiap-tiap kelompok (mulai dari pelanggan yang menguntungkan sampai dengan pelanggan yang merugikan) dari para pelanggannya, maka perusahaan dapat melakukan tindakan-tindakan untuk meningkatkan customer life time value tiap-tiap kelompok menjadi lebih besar dari tahun ke tahun.
  1. Menemukan pelanggan baru

Memiliki hubungan yang baik dengan pelanggan dan memberikan yang terbaik bagi mereka, sehingga menciptakan suasana yang menyenangkan bagi kedua belah pihak. Dengan pelanggan yang loyal, selain akan membeli lebih banyak dan lebih sering, mereka juga dapat bertindak sebagai penasihat bagi keluarga dan teman-temannya untuk menjadi pelanggan perusahaan tersebut.

Tingkatan Relationship Marketing

 Tandjung dalam Adiningrum (2009:23) menyatakan bahwa terdapat beberapa tingkatan relationship marketing diantaranya adalah:
  1. Relationship marketing tingkat pertama
  • Hubungan berdasarkan financial benefit, artinya pelanggan mau membina hubungan dengan penjual bila diberikan diskon atau harga murah.
  • Orientasi pemasaran adalah pelanggan, artinya penjual mengutamakan kepuasan pelanggan.
  • Tingkat service customization rendah karena harga yang diminta oleh pelanggan sudah cukup murah sehingga penjual tidak dapat memenuhi keinginan-keinginan pelanggan yang spesifik.
  • Perbedaan kompetitif rendah karena persaingan harga terjadi karena faktor harga murah atau pemberian diskon.
  • Elemen bauran pemasaran utama yang digunakan adalah harga.
  1. Relationship marketing tingkat kedua
  • Hubungan berdasarkan financial dan sosial benefit dengan menekankan pada layanan dan komunikasi.
  • Orientasi pemasaran adalah repeat consumer, yaitu pelanggan yang membeli untuk kedua kali atau lebih, baik untuk produk yang sama maupun untuk lini produk yang lain.
  • Tingkat service customization adalah menengah karena pelanggan masih menginginkan adanya diskon meskipun itu bukan faktor utama dalam melakukan penelitian.
  • Perbedaan kompetitif menengah karena pesaing masih memiliki kemungkinan meniru strategi yang dipakai dan pelanggan juga relatif masih bisa dipengaruhi dengan memberikan diskon yang lebih besar.
  • Elemen bauran pemasaran utama, yang digunakan adalah personal communication, artinya penjual mengenal lebih dalam kepribadian pelanggan.
  1. Relationship marketing tingkat ketiga
  • Hubungan berdasarkan financial, social and structural benefit.
  • Orientasi pemasaran dalah client, yaitu pelanggan yang membeli semua kebutuhannya secara teratur dan penjual yang sama.
  • Tingkat service customization medium to high karena pada tingkatan ini penjual dapat memperoleh laba yang cukup sehingga mempu mendesain strategi yang relatif dapat memenuhi keinginan pelanggan.
  • Perbedaan kompetitif cukup tinggi.


Faktor-faktor Relationship Marketing

Dalam menjalankan strategi relationship marketing ini, perusahaan harus memperhatikan faktor-faktor yang mempengaruhinya, agar strategi ini dapat terlaksana dengan baik dan mencapai tujuan yang diinginkan. Robinette (2000:125) menjelaskan bahwa untuk membangun dan mengembangkan relationship marketing yang baik dan bertahan untuk jangka waktu yang lama, maka perusahaan selayaknya memperhatikan faktor-faktor berikut ini, yaitu:
  1. Keuntungan bersama (mutual benefit)
Maksudnya adalah dalam strategi ini pihak perusahaan dan pelanggan harus sama-sama diuntungkan. Pelanggan merasa senang dan puas dengan produk maupun pelayanan yang diberikan perusahaan, sedangkan perusahaan mendapatkan keuntungan dari transaksi tersebut.
  1. Komitmen (commitment)
Komitmen adalah sebagai janji yang diungkapkan baik secara eksplisit maupun implisit dari kontinyuitas suatu hubungan mitra, komitmen juga sebagai pengendali bagi semua pertukaran rasional antara perusahaan dengan berbagai pihak.
  1. Kebenaran (authenticity)
Perusahaan harus menanggapi kebutuhan ataupun keluhan dari pelanggan dengan sungguh-sungguh. Dalam menjalin hubungan dengan pelanggan harus berdasarkan kebenaran, kejujuran, sehingga akan mempercepat perkembangan dari hubungan antar perusahaan dengan pelanggan.
  1. Komunikasi (communication)
Kedua belah pihak dalam hal ini perusahaan dan pelanggan harus merasa bahwa mereka dapat saling mengekspresikan keinginan dan merasa bahwa mereka dapat saling mendengar dan saling mengerti. Setiap pelanggan dapat mengkomunikasikan segala kebutuhan maupun ketidakpuasannya kepada pihak perusahaan. Perusahaan pun dapat merespon atau menanggapi dan mengkomunikasikan segala hal yang dapat membantu pelanggan dalam proses pemakaian produk perusahaan.
Dalam melaksanakan strategi relationship marketing disamping memperhatikan keempat faktor tersebut, perusahaan harus juga memperhatikan mengenai kualitas layanan kepada para pelanggan. Kualitas pelayanan yang diberikan kepada pelanggan haruslah yang terbaik, agar kepuasan konsumen tercapai sehingga tingkat loyalitas pelanggan semakin meningkat terhadap perusahaan.

Strategi Relationship Marketing

Berry dalam Farid (2009:4) menyatakan bahwa ada beberapa bentuk strategi relationship marketing, yaitu:
  1. Strategi utama dalam relationship marketing adalah mendesain pelayanan utama yang berhubungan dengan pelanggan dalam membentuk pemasaran yang mapan. Pelayanan utama, idealnya dibangun dengan menarik pelanggan melalui pertemuan untuk mengetahui kebutuhannya, membangun segmen bisnis dengan mutu yang bersifat jangka panjang dan penyediaan penjualan jasa tambahan dari waktu ke waktu.
  2. Strategi kedua adalah membangun hubungan dengan konsumen melalui identifikasi keperluan dan persyaratan dari individu-individu pelanggan. Sehingga dengan demikian, akan menjadi perangsang bagi individu untuk tetap menggunakan jasa atau produk perusahaan dibandingkan dengan pemasok lain.
  3. Strategi relationship marketing yang lain adalah tambahan service atau pelayanan. Tambahan service merupakan fasilitas ekstra untuk membedakan dengan pesaing. Dengan fasilitas ekstra pelanggan merasa dihargai dan sedikit kemungkinannya meninggalkan perusahaan dibandingkan dengan pesaing.
  4. Hubungan penetapan harga dalam relationship marketing dikembangkan dalam menjaga kesetiaan pelanggan. Pada hakekatnya pelanggan diberi perangsang harga untuk memperkuat hubungan mereka dengan para pemasok. Sehingga kesetiaan pelanggan pada perusahaan dengan strategi dapat dipertahankan.
  5. Pemasaran internal merupakan salah satu strategi relationship marketing yang juga tak kalah pentingnya. Wujud dari pemasaran internal adalah karyawan seperti pelanggan yang harus mendapatkan kepuasan dari organisasinya. Yang lebih penting adalah bagaimana organisasi melayani tenaga kerjanya secara intensif. Di dalam organisasi kualitas layanan ditentukan oleh sebagian besar oleh sikap, keterampilan dan pekerjaan personil dalam menghasilkan jasa. Menawarkan jasa secara konsisten ketika bertemu antara persyaratan-persyaratan mutu dengan pasar sasaran merupakan faktor penting dalam membangun hubungan pelanggan.


Klasifikasi Relationship Marketing

 Menurut Gummesson dalam Foster (2008:116), hubungan relationship marketing dikelompokkan sebagai berikut:
  1. Market relationship (hubungan pasar), yaitu hubungan antara pemasok (supplier), pelanggan (customer), kompetitor (competitor), dan lain-lain yang beroperasi di pasar. Market relationship (hubungan pasar) terdiri dari:
  • Classic market relationship (hubungan klasik pasar) yang meliputi supplier customer dyad, triad of supplier-customer competitor atu meliputi jaringan distribusi fisik.
  • Special market relationship yang merupakan aspek khusus di pasar yang meliputi interaksi dalam service encounter atau pelanggan sebagai anggota dari program loyalitas.
  1. Non-market relationship (hubungan non pasar), yaitu yang tidak langsung mempengaruhi efisiensi hubungan pasar (market relationship). Non market relationship (hubungn non pasar) yang terdiri dari:
  • Mega relationship yang meliputi masalah ekonomi dan masyarakat umumnya. Disini tercakup mega marketing (lobbying, pandangan masyarakat, dan kekuatan politik), mega alliances seperti NAFTA, dan hubungan sosial (social relationship) seperti persahabatan dan kelompok etnik.
  • Nano relationship yang meliputi hubungan antara internal customers dan internal markets (employee market).

Pengertian Relationship Marketing

         Menurut Kotler (1997:11) “relationship marketing adalah praktik membangun hubungan jangka panjang yang memuaskan dengan pihak-pihak kunci; pelanggan, pemasok, penyalur guna mempertahankan preferensi dan bisnis jangka panjang mereka”. Berry dalam Farid (2009:3) mendefinisikan “relationship marketing sebagai upaya menarik, memelihara, dan keseluruhan pelayanan organisasi dalam menjaga hubungan dengan pelanggan. Penjualan dan pelayanan kepada pelanggan yang ada dipandang sama pentingnya dalam menyukseskan pemasaran jangka panjang”.
Hal ini berarti bahwa penjualan baik akan dapat meningkatkan penjualan dan pelayanan yang baik adalah upaya untuk mempertahankan hubungan. Dengan demikian relationship marketing berfokus pada bagaimana cara mempertahankan pelanggan dan mempertahankan pelayanan kepada konsumen.

Parvatiyar dan Sheth (2002:4) memandang pemasaran relasional sebagai suatu orientasi yang mengembangkan interaksi yang erat dengan pelanggan terpilih, pemasok dan pesaing untuk penciptaan nilai melalui usaha kerjasama. Sedangkan menurut Chan (2003:6) “Relationship Marketing (RM) dapat didefinisikan sebagai: Pengenalan setiap pelanggan secara lebih dekat dengan menciptakan komunikasi dua arah dengan mengelola suatu hubungan yang saling menguntungkan antara pelanggan dan perusahaan”. Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa relationship marketing adalah pengenalan pelanggan dengan membangun hubungan yang lebih dekat dan memuaskan dengan menciptakan komunikasi dua arah untuk memlihara bisnis dan preferensi dalam jangka panjang.

Pengertian Karakter

       Menurut bahasa (etimologis) karakter berasal dari bahasa Latin kharakter, kharassein, dan kharax, istilah dalan bahasa Yunani dari kata charassein, yang berarti membuat tajam dan membuat dalam. Dalam bahasa Inggris character dan dalam bahasa Indonesia lazim digunakan dengan istilah karakter (Majid dalam Gunawan, 2012:1). Sementara itu, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional kata karakter berarti sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dengan yang lain, atau bermakna bawaan, hati, jiwa, kepribadian, budi pekerti, perilaku, personalitas, sifat, tabiat, temperamen, dan watak.
Karakter dimaknai sebagai cara berfikir dan berperilaku yang khas tiap individu untuk hidup dan bekerja sama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. Individu yang berkarakter baik adalah individu yang dapat membuat keputusan dan siap mempertanggungjawabkan setiap akibat dari keputusannya. (Samani & Hariyanto, 2013:41)
Sementara menurut istilah (terminologis) terdapat beberapa pengertian tentang karakter, sebagaimana telah dikemukakan oleh beberapa ahli, diantaranya adalah sebagai berikut:
1. Hornby and Parnwell dalam Gunawan (2012:2). Karakter adalah kualitas mental atau moral,               kekuatan moral, nama atau reputasi.
2. Musfiroh dalam Gunawan (2012:2) menyatakan bahwa karakter mengacu kepada serangkaian           sikap (attitudes), perilaku (behaviours), motivasi (motivations), dan keterampilan (skills). Karakter     berasal dari bahasa Yunani yang berarti tomark atau menandai dan memfokuskan bagaimana               mengaplikasikan nilai kebaikan dalam bentuk tindakan atau tingkah laku.
3. Kertajaya dalam Gunawan (2012:2) mendefinisikan bahwa karakter adalah ciri khas yang dimiliki     oleh suatu benda atau individu (manusia). Ciri khas tersebut adalah asli, dan mengakar pada                 kepribadian benda atau individu tersebut dan merupakan mesin pendorong bagaimana seseorang         bertindak, bersikap, berujar, serta merespon sesuatu.
4. Philips dalam Gunawan (2012:2) menyatakan bahwa karakter adalah kumpulan tata nilai yang           menuju pada suatu sistem, yang melandasi pemikiran, sikap dan, perilaku yang ditampilkan.
5. Koesoema dalam Gunawan (2012:2) memahami bahwa karakter sama dengan kepribadian.                 Kepribadian dianggap sebagai ciri atau karakteristik atau gaya atau sifat khas dari diri seseorang         yang bersumber dari bentukan-bentukan yang diterima dari lingkungan.
6. Ghozali dalam Gunawan (2012:2) menganggap bahwa karakter lebih dekat dengan akhlaq, yaitu         spontanitas manusia dalam bersikap, atau melakukan perbuatan yang telah menyatu dalam diri           manusia sehingga ketika muncul tidak perlu dipikirkan lagi.

Definisi Loyalitas Pelanggan

        Tandjung (2004:121), menguraikan definisi loyalitas pelanggan sebagai berikut:
a. Pelanggan yang melakukan pembelian ulang secara teratur.
b. Pelanggan yang membeli produk dari lini produk yang lain. Misalnya disamping membeli buku           tulis juga membeli es krim di tempat yang sama.
c. Pelanggan yang mereferensikan kepada orang lain
d. Pelanggan yang tidak dipengaruhi oleh pesaing untuk pindah
Selanjutnya Clancy dan Shulman dalam Tjiptono (2005:102) mengemukakan bahwa:
Loyalitas konsumen merupakan komitmen dan perilaku pembelian konsumen terhadap suatu produk atau jasa, sedangkan loalitas terdiri atas seberapa tingkatan dan tiap tingkatan terdapat tingkatan komitmen yang berbeda. Semakin tinggi tingkatan loyalitas akan memungkinkan pembelian berkelanjutan terhadap produk.
         Dari definisi-definisi diatas, dapat ditarik kesimpulan bahwa loyalitas pelanggan merupakan perilaku dari pelanggan yang melakukan pembelian berulang dari suatu tempat secara teratur dan mereferensikan kepada orang lain serta tidak memilih pesaing lainnya. Dalam hal ini ada tiga karateristik penting dalam mengenali loyalitas pelanggan yaitu pembelian berulang, peningkatan proporsi pembelanjaan dan merekomendasikan kepada orang lain.
         Tujuan utama atau misi dari setiap perusahaan adalah mencapai tingkat loyalitas yang tinggi dari konsumen. Hal ini dikarenakan dengan mendapatkan sikap loyalitas dari konsumen berarti perusahaan dihadapkan kepada keuntungan di tambah lagi apabila penerapannya dalam jangka panjang maka sudah dapat dipastikan bahwa perusahaan akan menerima keuntungan jangka panjang pula.

Daftar Rujukan:
Tanjung, J, W. 2004.Marketing manajemen. Malang : Penerbit PT Banyu Media Publishing.
Tjiptono, F. 2005. Strategi Bisnis dan Manajemen. Yogyakarta: Andi offset.

Ciri-ciri Motivasi Berprestasi

          Atkinson (1982) dalam Sujarwo (2013) mengemukakan bahwa seseorang yang memiliki motivasi berprestasi tinggi memiliki ciri-ciri sebagai berikut: a) memiliki tanggung jawab yang tinggi pada tugasnya, b) menetapkan tujuan yang menantang, sulit dan realistik, c) memiliki harapan sukses, d) melakukan usaha yang keras untuk mencapai kesuksesan, e) tidak memikirkan kegagalan, dan f) berusaha memperoleh hasil yang terbaik. McCelland dalam Uno (2009: 47) menandai sifat-sifat dasar orang awam dengan kebutuhan pencapaian yang tinggi, yaitu: “(1) Selera akan keadaan menyebabkan seseorang dapat bertanggungjawab secara pribadi, (2) Kecenderungan menentukan sasaran-sasaran yang pantas (sedang) dan memperhitungkan resikonya, dan (3) Keinginan untuk mendapatkan umpan balik yang jelas atas kinerja”.
         Berdasarkan ciri-ciri di atas dapat disimpulkan bahwa siswa yang memiliki motivasi berprestasi tinggi adalah siswa yang selalu berusaha keras untuk dapat mencapai prestasi yang terbaik dengan cara selalu bertanggung jawab dengan tugas yang diberikan. Siswa ini juga menyukai tugas yang tingkatannya sedang dan sulit karena akan membuat siswa tersebut tertantang.

Daftar Rujukan:
Sujarwo.2013. Motivasi Berprestasi Sebagai Salah Satu Perhatian Dalam Memilih Strategi Pembelajaran
Uno, H.B. 2009. Perencanaan Pembelajaran. Jakarta: PT. Bumi Aksara.

Teori Motivasi Berprestasi

          Banyak sekali teori-teori kebutuhan dalam ilmu psikologi salah satunya adalah teori kebutuhan berprestasi (Need for Achivement ). Teori ini dikemukakan oleh McClelland seorang ahli pskologi sosial yang mengadakan penelitian tentang motivasi berprestasi. Penelitian ini menyatakan bahwa “achievement in student is a natural desire possessed by them to accomplish something that might not necessarily be connected with work(Khan, 2003:59). Artinya prestasi siswa adalah keinginan alami yang dimiliki oleh mereka untuk mencapai sesuatu yang mungkin tidak selalu dihubungkan dengan pekerjaan. Hal ini menunjukkan bahwa motivasi berprestasi berasal dari dalam diri siswa atau bersifat intrinsik.
          McClelland dalam Sujarwo (2013) juga  menjelaskan bahwa need for achievement yaitu sebagai suatu dorongan pada seseorang untuk berhasil dalam kompetisi dengan suatu standar keunggulan (standart of excellence). Lebih lanjut McClelland mengemukakan bahwa motivasi berbeda-beda, sesuai dengan kekuatan dan kebutuhan seseorang akan prestasi (Laba, 2010:5). Jadi dapat disimpulkan bahwa motivasi berprestasi ini tergantung pada seberapa tingginya kekuatan/kemauan orang tersebut untuk sukses dan seberapa tinggi kekhawatiran seseorang mengalami kegagalan.
         Teori motivasi berprestasi juga dikemukakan oleh Atkinson. Atkinson berpendapat bahwa kecenderungan untuk menggunakan aktivitas tertentu berhubungan dengan keyakinan bahwa aktivitas (tingkah laku) tersebut akan menuntun kepada suatu tujuan tertentu (Laba, 2010). Atkinson dalam Schunk (2012:492) menyatakan ada dua aspek yang mendasari motivasi berprestasi yaitu “harapan untuk berhasil dan penghindaran (ketakutan dalam kegagalan). Tindakan berprestasi akan membawa kemungkinan untuk berhasil dan gagal”. Adanya dua kemungkinan itu membuat seseorang berusaha semaksimal mungkin untuk menghindari kegagalan dan dapat mencapai keberhasilan.
Usaha menghindari kegagalan dapat diartikan sebagai upaya mengerjakan tugas seoptimal mungkin, agar tidak gagal dalam memperoleh kesempatan yang akan datang. Demikian juga usaha untuk berhasil dapat menjadi pendorong yang memberikan kepercayaan diri, sehingga mampu melakukan sesuatu dengan sukses, dengan mempertimbangkan kemampuan untuk menghindari kegagalan. Adanya harapan untuk berhasil mendorong seseorang akan berusaha semaksimal mungkin untuk mengerjakan tugas-tugasnya dengan mempertimbangankan kemampuan yang dimilikinya agar terhindar dari kegagalan.

Daftar Rujukan:
Khan, W. A. 2003. Teaching Motivation. India: Discovery Publishing House.
Laba, I.W. 2010. Pengaruh Metode Resitasi Tugas dan Motivasi Berprestasi Terhadap Hasil Belajar Matematika di SMA                                   Negeri 1 Manggis      
Schunk, D.H., Printrich, P.R., Meece, JL. Tanpa Tahun. Motivasi Dalam Pendidikan Teori, Penelitian, Dan Aplikasi.                                       Terjemah Ellys Tjo. 2012 Jakarta: Indeks
Sujarwo.2013. Motivasi Berprestasi Sebagai Salah Satu Perhatian Dalam Memilih Strategi Pembelajaran,  

Pengertian Motivasi Berprestasi

          Motivasi berasal dari kata bahasa inggris yaitu motivation yang berarti dorongan. “Motivasi adalah kekuatan pendorong yang ada dalam diri seorang individu untuk melakukan aktivitas-aktivitas tertentu dalam mencapai tujuan” (Masnur dkk, 1987:42). Dimyati dan Mudjiono (2009:80) berpendapat bahwa “motivasi dipandang sebagai dorongan mental yang menggerakkan dan mengarahkan perilaku manusia”. Menurut Ardhana (1992), motivasi adalah faktor penting dalam mencapai prestasi, baik prestasi akademik maupun dalam bidang lain. Berdasarkan pernyataan para ahli dapat disimpulkan bahwa motivasi adalah dorongan yang terdapat dalam diri manusia yang mengadakan perubahan tingkah laku kearah lebih baik dalam mencapai tujuan. Dengan motivasi tersebut seseorang akan berusaha meningkatkan hasil kerja yang ingin dicapai secara terus menerus sampai ia dapat meraih prestasi yang diinginkannya.
          Menurut Winkel (2005:194), motivasi dapat dibedakan menjadi dua yaitu motivasi ekstrinsik dan motivasi intrinsik. Motivasi ekstrinsik adalah aktivitas belajar dimulai dan diteruskan berdasarkan kebutuhan yang tidak mutlak berkaitan dengan aktivitas belajar sendiri atau dapat dikatakan motivasi yang berasal dari luar diri siswa. Sedangkan motivasi intrinsik adalah kegiatan belajar dimulai dan diteruskan berdasarkan penghayatan sesuatu kebutuhan dan dorongan secara mutlak berkaitan dengan aktivitas belajar. Salah satu motivasi intrinsik pada siswa adalah motivasi berprestasi.
        Motivasi berprestasi merupakan suatu dorongan dalam diri seseorang untuk melakukan sesuatu, salah satunya dorongan tersebut adalah untuk mendapatkan prestasi. Menurut McClelland dalam Laba (2010) mendefinisikan motivasi berprestasi sebagai suatu dorongan seseorang untuk berhasil dalam kompetisi dengan suatu standar keunggulan (standar of excellent). Khan (2003:59), mendefinisikan motivasi berprestasi sebagai kebutuhan untuk mengatasi tantangan. Sedangkan Winkel (2005:175) berpendapat bahwa motivasi berprestasi merupakan daya penggerak dalam diri seseorang untuk mencapai prestasi belajar setinggi mungkin untuk menghargai dirinya. Berdasarkan beberapa penjelasan di atas, maka menurut peneliti motivasi berprestasi secara operasional didefinisikan sebagai perilaku yang bertujuan untuk mencapai hasil yang terbaik, untuk melakukan sesuatu yang lebih baik daripada orang lain.
        Menurut Sujarwo (2013), motivasi berprestasi memberikan pengaruh kuat terhadap pencapaian hasil belajar siswa. Harapan, keinginan dan usaha siswa yang timbul dalam diri siswa berfungsi sebagai energi pendorong bagi siswa untuk belajar dan mengikuti pembelajaran dengan sungguh-sungguh serta menyelesai-kan tugas-tugas belajarnya dengan baik, sehingga akan diperoleh hasil belajar optimal. Umumnya siswa yang memiliki motivasi berprestasi tinggi mempunyai akademik yang baik, sebaliknya siswa yang memiliki motivasi berprestasi rendah memiliki kemampuan akademik yang lebih rendah meskipun sebenarnya motivasi belum dapat menjamin prestasi seseorang, demikian pula prestasi seseorang tidaklah mencerminkan motivasinya (Keefe dan Jenkins, 1993 dalam Zenzen, 2002). Berdasarkan penjelasan tersebut maka dapat dikatakan bahwa motivasi berprestasi yang dimiliki seseorang dapat mempengaruhi hasil belajar walaupun tidak menjamin motivasi berprestasi tinggi akan menjamin prestasi yang didapat-nya juga akan tinggi.


Daftar Pustaka:
Ardhana, I.W. 1992. Atribusi Terhadap Sebab-Sebab Keberhasilan dan Kegagalan serta Kaitannya dengan Motivasi untuk Berprestasi. Jurnal Forum Penelitian IKIP Malang, Tahun 4, No 1 dan 2, halaman 79-98.
Djamarah, B.S.&Zain, A. 2010. Strategi Beajar Mengajar (Edisi Revisi). Jakarta: PT Rineka Cipta.
Dimyati&Mudjiono. 2009. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta.

Khan, W. A. 2003. Teaching Motivation. India: Discovery Publishing House.

Kamis, 07 Februari 2013

TUDUHAN BID'AH KEPADA PARA SHOHABAT KHULAFA'UR RASYIDDIN

Banyak orang yang menganggap bahwa perkara yang diadakan oleh para Khulafaur Rasyiddin merupakan bid'ah. Sebagaimana pernyataan oleh beberapa ulama sebagai berikut:

".... para Sahabat banyak melakukan bid'ah. Seperti Abu Bakar dengan pengumpulan catatan Al Quran, Umar bin Khattab dengan tarawih dan Utsman bin Affan dengan pembukuan Al Quran yang dikenal dengan mushaf Utsmani."

Tuduhan atau mungkin bahasa yang lebih sopan adalah anggapan beberapa ulama di atas dibantah secara mentah-mentah oleh hadits di bawah ini:


أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ عَبْدًا حَبَشِيًّا فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِى فَسَيَرَى اخْتِلاَفًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِى وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

“Aku wasiatkan kepada kalian untuk bertakwa kepada Allah, tetap mendengar dan ta’at kepada pemimpin walaupun yang memimpin kalian adalah seorang budak dari Habasyah. Karena barangsiapa di antara kalian yang hidup sepeninggalku nanti, dia akan melihat perselisihan yang banyak. Maka wajib bagi kalian untuk berpegang pada sunnah-ku dan sunnah;Khulafa’ur Rasyidin yang mereka itu telah diberi petunjuk. Berpegang teguhlah dengannya dan gigitlah ia dengan gigi geraham kalian. Jauhilah dengan perkara (agama) yang diada-adakan karena setiap perkara (agama) yang diada-adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah kesesatan” (HR. At Tirmidzi no. 2676. ia berkata: “haditsini hasan shahih”)
Aku wasiatkan kepada kalian untuk bertakwa kepada Allah, tetap mendengar dan ta’at kepada pemimpin walaupun yang memimpin kalian adalah seorang budak dari Habasyah. Karena barangsiapa di antara kalian yang hidup sepeninggalku nanti, dia akan melihat perselisihan yang banyak. Maka wajib bagi kalian untuk berpegang pada sunnah-ku dan sunnah Khulafa’ur Rasyidin yang mereka itu telah diberi petunjuk. Berpegang teguhlah dengannya dan gigitlah ia dengan gigi geraham kalian. Jauhilah dengan perkara (agama) yang diada-adakan karena setiap perkara (agama) yang diada-adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah kesesatan (HR. At Tirmidzi no. 2676. ia berkata: “hadits ini hasan shahih”)

Jadi menurut hadits diatas jelas bahwa segala sesuatu yang dilakukan oleh Khulafa'ur Rasyidin merupakan Sunnah, dan bukan merupakan bid'ah sebagaimana yang dituduhkan/anggapan sebagian ulama dan banyak orang.




MADZHAB IMAM SYAFI'I: 10 FATWA-FATWA IMAM SYAFI’I YANG YANG SERING DIINGKARI

Banyak orang yang mengaku bermazhab Syafi’e dan mengakui mengikuti serta mempraktikkan Islam berdasarkan istinbat hukum oleh Imam Asy-Syafi’i. Namun, hakikatnya, banyak orang yang keliru kerana banyak fatwa-fatwa Imam Asy-Syafi’i yang tidak kita ketahui malah kita mengabaikannya. Padahal semua fatwa-fatwa itu adalah sangat penting dan berkaitan sekitar isu aqidah dan persoalan i’tiqad. Dengan itu, sama-sama lah kita teliti semula beberapa fatwa-fatwa beliau tersebut dan sama-sama kita muhasabah diri.
Fatwa-fatwa ini hanyalah sebahagian kecil dari sejumlah fatwa atau pendapat imam asy-Syafi’i sahaja. Iainnya diambil daripada buku/kitab berjudul “Manhaj Imam asy-Syafi’i fi Itsbat al-Aqidah”, karya/susunan Dr. Muhammad bin Abdil-Wahab al-’Aqil. Mari sama-sama kita teliti:

1 – MERATAKAN KUBURAN

Imam asy-Syafi’i rahimahullah menyatakan: “Saya suka kalau tanah kuburan itu tidak ditinggikan dan selainnya dan tidak mengambil padanya dan tanah yang lain. Tidak boleh, apabila ditambah tanah dan lainnya menjadi tinggi sekali, dan tidak mengapa jika ditambah sedikit saja sekitar. Saya hanya menyukai ditinggikan (kuburan) di atas tanah satu jengkal atau sekitar itu dari permukaan tanah”. (Syarah Muslim 2/666, Manhaj Imam asy-Syafi’i fi Itsbat al-Aqidah, 1/257)

2 – HUKUM MENDIRIKAN BANGUNAN DI KUBURAN

“Saya suka bila (kuburan) tidak dibuat bangunan, kerana itu menyerupai penghiasan dan kesombongan, dan kematian bukan tempat bagi salah satu dari keduanya. Dan saya tidak melihat kuburan para sahabat Muhajirin dan Anshar didirikan sebarang binaan. Seorang perawi menyatakan dari Thawus, bahawa Rasulullah s.a.w. telah melarang kuburan dibinakan binaan atau ditembok. Saya sendiri melihat sebahagian penguasa di Makkah menghancurkan semua bangunan di atasnya (kuburan), dan saya tidak melihat para ahli fikih mencela hal tersebut. (al-Umm 1/277. Manhaj Imam asy-Syafi’i fi Itsbat al-Aqidah, 1/258)

3 – HUKUM MEMBANGUN MASJID DI TEMPAT YANG ADA KUBUR

“Saya melarang dibangunnya masjid di atas kuburan dan disejajarkan atau dipergunakan untuk solat di atasnya dalam keadaan tidak rata atau solat menghadap kuburan. Apabila ia solat menghadap kuburan, maka masih sah namun telah berbuat dosa”. (al-Umm 1/278. Manhaj Imam asy-Syafi’i fi Itsbat al-Aqidah, 1/261)

4 – PERSOALAN FITNAH KUBUR

“Sesungguhnya Azab kubur itu benar dan pertanyaan malaikat terhadap ahli kubur adalah benar.” (al-I’tiqad karya Imam al-Baihaqiy. Manhaj Imam asy-Syafi’i fi Itsbat al-Aqidah, 2/420)

5 – PERSOALAN HISAB, SYURGA, DAN NERAKA

“Hari kebangkitan adalah benar, hisab adalah benar, syurga dan neraka serta selainnya yang sudah dijelaskan dalam sunnah-sunnah (hadis-hadis), lalu ada pada lisan-lisan para ulama dan pengikut mereka di negara-negara muslimin adalah benar.” (Manaqib asy-Syafi’i, karya Imam al-Baihaqiy, 1/415. Manhaj Imam asy-Syafi’i fi Itsbat al-Aqidah, 2/426)

6 – BERSUMPAH DENGAN NAMA SELAIN NAMA ALLAH

“Semua orang yang bersumpah dengan nama selain Allah, maka saya melarangnya dan mengkhuwatirkan pelakunya, sehingga sumpahnya itu adalah kemaksiatan. Saya juga membenci bersumpah dengan nama Allah dalam semua keadaan, kecuali hal itu adalah ketaatan kepada Allah, seperti berbai’at untuk berjihad dan yang serupa dengannya.” (al-Umm 7/61. Manhaj Imam asy-Syafi’i fi Itsbat al-Aqidah, 1/271)

7 – PERNYATAAN TENTANG SYAFA’AT

“Beliau (Rasulullah s.a.w.) adalah manusia terbaik yang dipilih Allah untuk menyampaikan wahyu-Nya lagi terpilih sebagai Rasul-Nya dan yang diutamakan atas seluruh makhluk dengan membuka rahmat-Nya, penutup kenabian, dan lebih menyeluruh dan ajaran para rasul sebelumnya. Beliau ditinggikan namanya di dunia dan menjadi pemberi syafa’at, yang syafa’atnya dikabulkan di akhirat.” (ar-Risalah 12-13. Manhaj Imam asy-Syafi’i fi Itsbat al-Aqidah, 1/291)

Beliau juga menyatakan tentang syarat diterimanya syafa’at:

“Semalam saya mengambil faidah (istimbath) dari dua ayat yang membuat saya tidak tertarik kepada dunia dan yang sebelumnya. Firman Allah: “...Dia bersemayam di atas ‘Arsy (singgasana) untuk mengatur segala urusan. Tiada seorang pun yang akan memberi syafa’at kecuali sesudah ada keizinan-Nya....” (Surah Yunus, 1O: 3). Dan dalam kitabullah, hal ini banyak: “Siapakah yang dapat memberi syafaat di sisi Allah tanpa izin-Nya?” (Surah al-Baqarah, 2: 256) Syafa’at tertolak kecuali dengan izin Allah.” (Ahkamul Qur’an 2/180-181. Manhaj Imam asy-Syafi’i fi Itsbat al-Aqidah, 1/291)

8 – PENDIRIAN BERKENAAN ASMA’ WA SIFAT ALLAH

Imam Syafi’i rahimahullah menjelaskan melalui riwayat yang diriwayatkan oleh Ali bin Abi Talib radiallahu ‘anhu:

"Bagi-Nya dua tangan sebagaimana firman-Nya: (Tidak demikian), tetapi kedua-dua tangan Allah terbuka. Bagi-Nya tangan sebagaimana firman-Nya: Langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Allah mempunyai wajah sebagaimana firman-Nya: Setiap sesuatu akan binasa kecuali Wajah-Nya. Baginya kaki sebagaimana sabda Nabi saw: Sehinggalah Dia meletakkan wajah dan KakiNya. Dia mempunyai jari sebagaimana sabda Nabi sallallahu 'alaihi wa-sallam: Tiadalah hati itu kecuali antara jari-jari dari jari-jari Ar-Rahman (Allah). Kami menetapkan sifat-sifat ini dan menafikan dari menyerupakan sebagaimana dinafikan sendiri oleh Allah sebagaimana difirmankan: (Tiada sesuatu yang semisal dengan-Nya dan Dia Maha Mendengar dan Maha Melihat)". (Lihat: I’tiqad Aimmah al-Arba'ah Abi Hanifah wa Malik wa Syafi’e wa Ahmad, m/s. 46- 47, Cetakan pertama, 1412 -1992M. Darul 'Asimah Saudi Arabia)

Imam Syafi’e seterusnya menjelaskan:

"Dan Allah Ta'ala di atas 'Arasy-Nya (Dan 'Arasy-Nya) di langit”. (Lihat: I’tiqad Aimmah al-Arba'ah, Abi Hanifah, Malik, Syafie wa Ahmad, m/s. 40)

Imam Syafi’i seterusnya menjelaskan lagi:

"Kita menetapkan sifat-sifat (mengithbatkan sifat-sifat Allah) sebagaimana yang didatangkan oleh al-Quran dan yang warid tentangNya dari sunnah, kami menafikan tasybih (penyerupaan) tentangNya kerana dinafikan oleh diriNya sendiri sebagaimana firmanNya (Tiada sesuatu yang semisal denganNya)". (Lihat: I’tiqad Aimmah al-Arba'ah, Abi Hanifah, Malik, Syafie wa Ahmad, m/s. 42)

Imam Syafi'i telah menjelaskan juga tentang turun naiknya Allah Subhanahu wa-Ta’ala:

"Sesungguhnya Dia turun setiap malam ke langit dunia (sebagaimana) menurut khabar dari Rasulullah sallallahu 'alaihi wa-sallam". (Lihat: I’tiqad Aimmah al-Arba'ah, Abi Hanifah, Malik, Syafie wa Ahmad, m/s. 47)

Berkata Imam Syafi’e rahimahullah:

"Sesungguhnya Allah di atas ‘Arasy-Nya dan ‘Arasy-Nya di atas langit" (Lihat: I'tiqad Aimmah al-Arba'ah, Abi Hanifah, Malik, Syafie wa- Ahmad. Hlm. 179)

Ibnu Taimiyah, Imam Abu Hasan al-Asy’ari dan Imam Syafi’e ada kesepakatannya dalam meyakini tentang turun-naiknya Allah iaitu berlandaskan hadis:

"Tuhan kita turun ke langit dunia pada setiap malam apabila sampai ke satu pertiga dari akhir malam, maka Ia berfirman: Sesiapa yang berdoa akan Aku perkenankan, sesiapa yang meminta akan Aku tunaikan dan sesiapa yang meminta keampunan akan Aku ampunkan". (H/R Bukhari (1141), Muslim (758), Abu Daud (4733), Turmizi (4393), Ibn Majah (1366) dan Ahmad (1/346))

9 – SIKAP IMAM ASY-SYAFI’E TERHADAP SYI’AH

Dari Yunus bin Abdila’la, beliau berkata: Saya telah mendengar asy-Syafi’i, apabila disebut nama Syi’ah Rafidhah, maka ia mencelanya dengan sangat keras, dan berkata: “Kelompok terjelek! (terhodoh)”. (al-Manaqib, karya al-Baihaqiy, 1/468. Manhaj Imam asy-Syafi’i fi Itsbat al-Aqidah, 2/486)

“Saya belum melihat seorang pun yang paling banyak bersaksi/bersumpah palsu (berdusta) dari Syi’ah Rafidhah.” (Adabus Syafi’i, m/s. 187, al-Manaqib karya al-Baihaqiy, 1/468 dan Sunan al-Kubra, 10/208. Manhaj Imam asy-Syafi’i fi Itsbat al-Aqidah, 2/486)

“Asy-Syafi’i berkata tentang seorang Syi’ah Rafidhah yang ikut berperang: “Tidak diberi sedikit pun dari harta rampasan perang, kerana Allah menyampaikan ayat fa’i (harta rampasan perang), kemudian menyatakan: Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa: “Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami”. (Surah al-Hasyr, 59: 10) maka barang siapa yang tidak menyatakan demikian, tentunya tidak berhak (mendapatkan bahagian fa’i).” (at-Thabaqat, 2/117. Manhaj Imam asy-Syafi’i fi Itsbat al-Aqidah, 2/487)

10 – SIKAP IMAM ASY-SYAFI’I TERHADAP KAUM (ORANG-ORANG) SUFI

“Seandainya seorang menjadi sufi (bertasawwuf) di pagi hari, niscaya sebelum datang waktu Zuhur, engkau tidak dapati ia, melainkan telah menjadi orang bodoh.” (al-Manaqib lil Baihaqiy, 2/207. Manhaj Imam asy-Syafi’i fi Itsbat al-Aqidah, 2/503)
“Tidaklah seorang sufi menjadi sufi, hingga memiliki empat sifat: malas, suka makan, sering merasa sial, dan banyak berbuat sia-sia.” (Manaqib lil Baihaqiy, 2/207. Manhaj Imam asy-Syafi’i fi Itsbat al-Aqidah, 2/504)
“Asas tasawwuf adalah kemalasan.” (al-Hilyah 9/136-137. Manhaj Imam asy-Syafi’i fi Itsbat al-Aqidah, 2/504).

Repost from: http://mazhabsyafii.blogspot.com

MADZHAB IMAM SYAFI'I: PERINGATAN MAULID NABI

HUKUM MERAYAKAN MAULID NABI SHALALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM

Oleh : Asy-Syaikh Muhammad bin Sholih Al-’Utsaimin

Soal:
Samahatusy Syaikh Muhammad bin Sholih Al-’Utsaimin rahimahullah Ta’ala ditanya:”Apa hukumnya merayakan maulid Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam?”
 
Jawab: 
Pertama: Malam kelahiran Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam tidak diketahui secara pasti, tapi sebagian ahli sejarah menyatakan bahwa itu terjadi pada malam kesembilan Rabi’ul Awwal, bukan pada malam kedua belas. Tetapi saat ini perayaan maulid dilaksanakan pada malam kedua belas yang tidak ada dasarnya dalam tinjauan sejarah.

Kedua: Dipandang dari sisi aqidah juga tidak ada dasarnya. Dan kalaulah itu dari syari’at Allah, tentulah dilaksanakan oleh Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam atau disampaikan kepada umat beliau. Dan kalaulah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam mengerjakannya atau menyampaikan kepada umat beliau, maka mestinya amalan itu terjaga karena Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ (9) سورة الحجر.

“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya” (QS. Al-Hijr: 9).

Ketika ternyata tidak didapati, maka dapat diketahui bahwa hal itu bukan termasuk ajaran Islam. Dan jika bukan termasuk ajaran agama Allah, maka kita tidak boleh menjadikannya sebagai bentuk ibadah 1) kepada Allah Azza wa Jalla dan tidak boleh menjadikannya sebagai amalan untuk mendekatkan diri kepada Allah. Jika Allah telah menetapkan suatu jalan yang sudah ditentukan agar dapat sampai kepada-Nya itulah yang datang kepada Rasul-Nya shalallahu ‘alaihi wa sallam., maka bagaimana mungkin kita diperbolehkan membuat jalan sendiri yang akan menghantarkan kepada-Nya, padahal kita adalah seorang hamba? Ini berarti mengambil hak Allah Azza wa Jalla, yaitu membuat syari’at yang bukan dari-Nya dan kita masukkan ke dalam ajaran agama Allah. Ini juga merupakan pendustaan terhadap firman Allah Azza wa Jalla:
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِينًا…. (3) سورة المائدة

“Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu dan telah Ku-cukupkan nukmat-Ku dan telah Ku-ridloi Islam sebagai agama bagimu…” (QS. Al-Maidah: 3).

Maka kami katakana: Bila pernyataan ini termasuk bagian dari kesempurnaan ajaran agama, tentunya sudah ada sebelum Rasul shalallahu ‘alaihi wa sallam wafat dan jika tidak, maka hal itu tidak mungkin menjadi bagian dari kesempurnaan agama, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِينًا…. (3) سورة المائدة

“Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu dan telah Ku-cukupkan nukmat-Ku dan telah Ku-ridloi Islam sebagai agama bagimu…” (QS. Al-Maidah: 3).
Bagi siapa yang menyatakan bahwa perayaan maulid Nabi termasuk ajaran agama, maka telah membuat hal-hal yang baru sepeninggal Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam. Ucapannya mengandung kedustaan terhadap ayat-ayat yang mulia ini. Tidak diragukan lagi, bahwa orang-orang yang merayakan maulid Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam ingin mengagungkan beliau, nampaknya kecintaan dan besarnya harapan untuk mendapatkan kasih sayang Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dari perayaan yang diadakan dan untuk menghidupkan semangat kecintaan pada Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam. Semua ini termasuk ibadah; mencintai Rasul shalallahu ‘alaihi wa sallam adalah ibadah bahkan iman seseorang tidak akan sempurna sehingga Rasul lebih dicintai daripada dirinya, anaknya, orang tuanya, dan semua manusia. Mengagungkan Rasul juga termasuk ibadah, demikian juga haus akan kasih sayang Rasul, juga termasuk agama, karena dengan demikian seseorang menjadi cenderung kepada syar’at beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam. Jika demikian, maka tujuan perayaan maulid Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah dan pengagungan terhadap Rasul-Nya shalallahu ‘alaihi wa sallam. Ini adalah ibadah, bila ini ibadah maka tidak boleh membuat hal-hal baru –yang bukan dari Allah- dan dimasukkan ke dalam agama-Nya selama-lamanya. Maka perayaan maulid Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam adalah bid’ah dan haram.
Kemudian kita juga mendengarkan bahwa dalam perayaan ini terdapat kemungkaran-kemungkaran besar yang tidak diterima oleh syara’, perasaan maupun akal. Mereka bernyanyi-nyanyi untuk maksud-maksud tertentu yang sangat berlebihan tentang Rasul shalallahu ‘alaihi wa sallam. Sehingga mereka menjadikan Rasul shalallahu ‘alaihi wa sallam lebih agung/besar dari pada Allah –kita berlindung kepada-Nya-. Kita mendengar juga, karena kebodohan sebagian orang-orang yang merayakan maulid nabi, bahwa jika seseorang membaca kisah tentang kelahiran Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam 2) kemudian sampai pada lafadz “nabi dilahirkan” dengan serempak mereka berdiri. Kata mereka, Rasul shalallahu ‘alaihi wa sallam telah datang, maka kamipun berdiri untuk mengagungkan beliau”, ini adalah kebodohan. Ini bukanlah adab, karena beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam membenci bila disambut dengan berdiri. Para sahabat beliau adalah orang-orang yang paling mencintai dan mengagungkan beliau, namun mereka tidak berdiri menyambut beliau, karena mereka mengetahui beliau membenci hal itu. Saat beliau masih hidup saja tidak boleh, apatah lagi setelah beliau tidak ada (wafat).
Bid’ah ini – yakni bid’ah peringatan maulid nabi terjadi setelah berlalunya tiga generasi terbaik umat- dan dalam perayaan itu terdapat pula beberapa kemungkaran yang dilakukan oleh orang-orang yang merayakannya yang bukan dari pokok-pokok ajaran agama. Terlabih lagi dengan terjadinya ikhtilat (campur barur) antara laki-laki dan perempuan. Dan masih banyak kemungkaran-kemungkaran yang lain.
Sumber: Majmu’ Fatawa fii Arkanil Islam, soal no. 89.
Catatan kaki:
1) Ibadah adalah kumpulan nama-nama dari apa-apa yang dicintai dan diridhoi oleh Allah Azza wa Jalla baik yang nampak atau tidak (Lihat Fathul Majid Syarh Kitabut Tauhid).
2) Debaan (bahasa Cirebon).


Repost from: http://mazhabsyafii.blogspot.com

Keputusan Muktamar Nahdlatul Ulama [ NU ] Tentang Tahlilan, Menyediakan Makanan Kepada Penta’ziyah

MUKTAMAR I NAHDLATUL ULAMA (NU) KEPUTUSAN MASALAH DINIYYAH NO: 18 / 13 RABI’UTS TSAANI 1345 H / 21 OKTOBER 1926 DI SURABAYA
Keluarga Mayit Menyediakan Makanan Kepada Penta’ziyah

 


18. Soal : Bagaimana hukumnya keluarga mayat menyediakan makanan untuk hidangan kepada mereka yang datang berta’ziyah pada hari wafatnya atau hari-hari berikutnya, dengan maksud bersedekah untuk mayat tersebut? Apakah ia (keluarga) memperoleh pahala sedekah tersebut?


Jawab : Menyediakan makanan pada hari wafat atau hari ketiga atau hari ketujuh itu hukumnya makruh [dibenci], apabila harus dengan cara berkumpul bersama-sama dan pada hari-hari tertentu, sedang hukum makruh tersebut tidak menghilangkan pahala sedekah itu.

Keterangan :

1. Dalam Kitab  I’anah al- Thalibin:

وَ يُكْرَهُ لِأَهْلِ الْمَيِّتِ الْجُلُوْسِ لِلتَّعْزِيَةِ وَصَنْعُ طَعَامٍ يُجْمِعُوْنَ النَّاسَ عَلَيْهِ لِمَا رَوَى أَحْمَدُ عَنْ جَرِيْرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ الْبَجَلِي قاَلَ كُنَّا نَعُدُّ الْإِجْتِمَاعَ إِلَى أَهْلِ الْمَيِّتِ وَصَنْعَهُمُ الطَّعَامَ بَعْدَ دَفْنِهِ مِنَ النِّيَاحَةِ.

Makruh [dibenci] hukumnya bagi keluarga mayit ikut duduk bersama orang-orang yang sengaja diundang untuk berta’ziyah dan menghidangkan makanan bagi mereka, sesuai dengan riwayat Ahmad dari Jarir bin Abdullah al-Bajali, yang mengemukakan: “Kami menganggap berkumpul di (rumah keluarga) mayit dengan menyuguhi makanan pada mereka, setelah si mayit dikubur, itu sebagai bagian ratapan (yang dilarang)”.


Fatawa Al Kubro Ibnu Hajar Al Haitsami
2. Dalam Kitab Al-Fatawa al-Kubra:
وفي الفتاوى الكبرى فى أوائل الجزء الثانى ما نصه (وَسُئِل) أَعَادَهُ اللهُ عَلَيْنَا مِنْ بَرَكَاتِهِ عَمَّا يُذْبَحُ مِنَ النَّعَمِ وَ يُحْمَلُ مَعَ مِلْحٍ خَلْفَ الْمَيِّتِ إِلَى الْمَقْبَرَةِ وَ يُتَصَدَّقُ بِهِ عَلَى الْحَفَّارِيْنَ فَقَطْ وَ عَمَّا يُعْمَلُ ثَالِثَ مَوْتِهِ مِنْ تَهْيِئَةِ أَكْلٍ أَوْ إِطْعَامِهِ لِلْفُقَرَاءِ وَ غَيْرِهِمْ وَ عَمَّا يُعْمَلُ يَوْمَ السَّابِعِ كَذَلِكَ وَ عَمَّا يُعْمَلُ تَمَامَ الشَّهْرِ مِنَ الْكَعْكِ وَيُدَارُ بِهِ عَلَى بُيُوْتِ النِّسَاءِ التِي حَضَرْنَ الْجَنَازَةَ وَ لَمْ يَقْصُدُوْا بِذَلِكَ إِلاَّ مُقْتَضَى عَادَةِ أَهْلِ الْبِلاَدِ حَتىَّ أَنَّ مَنْ لَمْ يَفْعَلْ ذَلِكَ صَارَ مَمْقُوْتًا عِنْدَ هُمْ حَسِيْسًا لاَ يَعْبَأُوْنَ بِهِ وَ هَلْ إِذَا قَصَدُوْا بِذَلِكَ الْعَادَةَ وَ التَّصَدَّقَ فِي غَيْرِ الْأَخِيْرَةِ أَوْ مُجَرَّدَ الْعَادَةِ مَا ذَا يَكُوْنُ الْحُكْمُ جَوَازًا أَوْ غَيْرَهُ. وَ هَلْ يُوْزَعُ مَا صُرِفَ عَلَى انْصِبَاءِ الْوَرَرَثَةِ عِنْدَ قِسْمَةِ التِّرْكَةِ وَ إِنْ لَمْ يَرْضَ بِهِ بَعْضُهُمْ وَ عَنِ الْمَيِّتِ عِنْدَ أَهْلِ المَيِّتِ إِلَى مُضِيِّ شَهْرٍ مِنْ مَوْتِهِ لِأَنَّ ذَلِكَ عِنْدَهُمْ كَالْفَرْضِ مَا حُكْمُهُ؟ (فَأَجَابَ) بِقَوْلِهِ جَمِيْعُ مَا يُفْعَلُ مِمَّا ذُكِرَ فِي السُّؤَالِ مِنَ الْبِدَعِ الْمَذْمُوْمَةِ لَكِنْ لاَ حُرْمَةَ فِيْهِ إِلاَّ إِنْ فُعِلَ شَيْءٌ مِنْهُ لِنَحْوِ نَائِحَةٍ أَوْرَثَاءٍ وَمَنْ قَصَدَ بِفِعْلِ شَيْءٍ مِنْهُ دَفَعَ أَلْسِنَةِ الْجُهَّالِ وَ حَوْضِهِمْ فِي عَرْضِهِ بِسَبَبِ التَّرْكِ. يرْجَى أَنْ يَكْتَبَ لَهُ ثَوَابُ ذَلِكَ أَخْذًا مَنْ أَمْرِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ مَنْ أَحْدَثَ فِي الصَّلاَةِ بِوَضْعِ يَدِهِ عَلَى أَنْفِهِ. وَ عَلَّلُوْا بِصَوْنِ عَرْضِهِ عَنْ حَوْضِ النَّاسِ فِيْهِ عَلَى غَيْرِ هَذِهِ الْكَيْفِيَةِ وَلاَ يَجُوْزُ أَنْ يُفْعَلَ شَيْءٌ مِنْ ذَلِكَ مِنَ التِّرْكَةِ حَيْثُ كَانَ فِيْهَا مَحْجُوْرٌ عَلَيْهِ مُطْلَقًا أَوْ كَانُوْا كُلَّهُمْ رُشَدَاءَ لَكِنْ لَمْ يَرْضَ بَعْضُهُمْ.


“Imam Ibnu Hajar ditanya -semoga Allah mengembalikan barakahnya kepada kita-, bagaimanakah tentang hewan yang disembelih dan dimasak kemudian dibawa di belakang mayit menuju kuburan untuk disedekahkan ke para penggali kubur saja, dan tentang yang dilakukan pada hari ketiga kematian dalam bentuk penyediaan makanan untuk para fakir dan yang lain, dan demikian halnya yang dilakukan pada hari ketujuh, serta yang dilakukan pada genap sebulan dengan pemberian roti yang diedarkan ke rumah-rumah wanita yang menghadiri prosesi ta’ziyah jenazah. Mereka melakukan semua itu tujuannya hanya sekedar melaksanakan kebiasaan penduduk setempat sehingga bagi yang tidak mau melakukannya akan dibenci oleh mereka dan ia akan merasa diacuhkan. Kalau mereka melaksanakan adat tersebut dan bersedekah tidak bertujuan (pahala) akhirat, maka bagaimana hukumnya, boleh atau tidak? Apakah harta yang telah ditasarufkan, atas keinginan ahli waris itu masih ikut dibagi/dihitung dalam pembagian tirkah, walaupun sebagian ahli waris yang lain tidak senang pentasarufan sebagian tirkah bertujuan sebagai sedekah bagi si mayit selama satu bulan berjalan dari kematiannya. Sebab, tradisi demikian, menurut anggapan masyarakat harus dilaksanakan seperti “wajib”; bagaimana hukumnya? Beliau menjawab: semua yang dilakukan sebagaimana yang ditanyakan di atas termasuk bid’ah yang tercela tetapi tidak sampai haram (makruh); kecuali jika prosesi penghormatan pada mayit di rumah ahli warisnya itu bertujuan untuk “meratapi” atau memuji secara berlebihan (ratsa’) pada keluarga mayit. Dalam melakukan prosesi tersebut ia harus bertujuan menangkal “ocehan” orang-orang bodoh, agar mereka tidak menodai kehormatan dirinya, gara-gara ia tidak mau melakukan prosesi penghormatan di atas. Dengan sikap demikian, diharapkan ia mendapatkan pahala setara dengan realisasi perintah Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam. terhadap seseorang yang batal (karena hadats) shalatnya untuk menutup hidung dengan tangan (seakan-akan hidungnya keluar darah). Ini demi untuk menjaga kehormatan dirinya, jika ia berbuat di luar kebiasaan masyarakat. Dan tidak boleh diambil/dikurangi dari tirkah seperti kasus di atas. Sebab, tirkah yang belum dibagikan mutlak harus dijaga utuh, atau ahli warisnya sudah pandai-pandai, tetapi sebagian dari mereka tidak rela (jika tirkah itu digunakan sebelum dibagi kepada ahli waris)”.


Keterangan lebih lengkapnya lihat dalam Kitab I'anatut Thalibin Juz 2 hal. 165 -166 Daar Ibn 'Ashooshoh Littibaa'ati wan Nasri wa at tauzdi'i, Beirut , Seperti terlampir di bawah ini :

وقد أرسل الامام الشافعي - رضي الله عنه - إلى بعض أصحابه يعزيه في ابن له قد مات بقوله: إني معزيك لا إني على ثقة * * من الخلود، ولكن سنة الدين فما المعزى بباق بعد ميته * * ولا المعزي ولو عاشا إلى حين والتعزية: هي الامر بالصبر، والحمل عليه بوعد الاجر، والتحذير من الوزر بالجزع، والدعاء للميت بالمغفرة وللحي بجبر المصيبة، فيقال فيها: أعظم الله أجرك، وأحسن عزاءك، وغفر لميتك، وجبر معصيتك، أو أخلف عليك، أو نحو ذلك.وهذا في تعزية المسلم بالمسلم.
وأما تعزية المسلم بالكافر فلا يقال فيها: وغفر لميتك، لان الله لا يغفر الكفر.

وهي مستحبة قبل مضي ثلاثة أيام من الموت، وتكره بعد مضيها.ويسن أن يعم بها جميع أهل الميت من صغيروكبير، ورجل وامرأة، إلا شابة وأمرد حسنا، فلا يعزيهما إلا محارمهما، وزوجهما.ويكره ابتداء أجنبي لهما بالتعزية، بل الحرمة أقرب.ويكره لاهل الميت الجلوس للتعزية، وصنع طعام يجمعون الناس عليه، لما روى أحمد عن جرير بن عبد الله البجلي، قال: كنا نعد الاجتماع إلى أهل الميت وصنعهم الطعام بعد دفنه من النياحة، ويستحب لجيران أهل الميت - ولو أجانب - ومعارفهم - وإن لم يكونوا جيرانا - وأقاربه الاباعد - وإن كانوا بغير بلد الميت - أن يصنعوا لاهله طعاما يكفيهم يوما وليلة، وأن يلحوا عليهم في الاكل.ويحرم صنعه للنائحة، لانه إعانة على معصية.

وقد اطلعت على سؤال رفع لمفاتي مكة المشرفة فيما يفعله أهل الميت من الطعام.وجواب منهم لذلك.
(وصورتهما).

ما قول المفاتي الكرام بالبلد الحرام دام نفعهم للانام مدى الايام، في العرف الخاص في بلدة لمن بها من الاشخاص أن الشخص إذا انتقل إلى دار الجزاء، وحضر معارفه وجيرانه العزاء، جرى العرف بأنهم ينتظرون الطعام، ومن غلبة الحياء على أهل الميت يتكلفون التكلف التام، ويهيئون لهم أطعمة عديدة، ويحضرونها لهم بالمشقة الشديدة.فهل لو أراد رئيس الحكام - بما له من الرفق بالرعية، والشفقة على الاهالي - بمنع هذه القضية بالكلية ليعودوا إلى التمسك بالسنة السنية، المأثورة عن خير البرية وإلى عليه ربه صلاة وسلاما، حيث قال: اصنعوا لآل جعفر طعاما يثاب على هذا المنع المذكور ؟ أفيدوا بالجواب بما هو منقول ومسطور.

(الحمد لله وحده) وصلى الله وسلم على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه والسالكين نهجهم بعده.اللهم أسألك الهداية للصواب.

نعم، ما يفعله الناس من الاجتماع عند أهل الميت وصنع الطعام، من البدع المنكرة التي يثاب على منعها والي الامر، ثبت الله به قواعد الدين وأيد به الاسلام والمسلمين.

قال العلامة أحمد بن حجر في (تحفة المحتاج لشرحك المنهاج): ويسن لجيران أهله - أي الميت - تهيئة طعام يشبعهم يومهم وليلتهم، للخبر الصحيح.اصنعوا لآل جعفر طعاما فقد جاءهم ما يشغلهم
.
ويلح عليهم في الاكل ندبا، لانهم قد يتركونه حياء، أو لفرط جزع.ويحرم تهيئه للنائحات لانه إعانة على معصية، وما اعتيد من جعل أهل الميت طعاما ليدعوا الناس إليه، بدعة مكروهة - كإجابتهم لذلك، لما صح عن جرير رضي الله عنه.كنا نعد الاجتماع إلى أهل الميت وصنعهم الطعام بعد دفنه من النياحة.

ووجه عده من النياحة ما فيه من شدة الاهتمام بأمر الحزن.
ومن ثم كره اجتماع أهل الميت ليقصدوا بالعزاء، بل ينبغي أن ينصرفوا في حوائجهم، فمن صادفهم عزاهم.
اه.

وفي حاشية العلامة الجمل على شرح المنهج: ومن البدع المنكرة والمكروه فعلها: ما يفعله الناس من الوحشةوالجمع والاربعين، بل كل ذلك حرام إن كان من مال محجور، أو من ميت عليه دين، أو يترتب عليه ضرر، أو نحو ذلك.
اه.وقد قال رسول الله (ص) لبلال بن الحرث رضي الله عنه: يا بلال من أحيا سنة من سنتي قد أميتت من بعدي، كان له من الاجر مثل من عمل بها، لا ينقص من أجورهم شيئا.

ومن ابتدع بدعة ضلالة لا يرضاها الله ورسوله، كان عليه مثل من عمل بها، لا ينقص من أوزارهم شيئا.وقال (ص): إن هذا الخير خزائن، لتلك الخزائن مفاتيح، فطوبى لعبد جعله الله مفتاحا للخير، مغلاقا للشر.وويل لعبد جعله الله مفتاحا للشر، مغلاقا للخير.

ولا شك أن منع الناس من هذه البدعة المنكرة فيه إحياء للسنة، وإماته للبدعة، وفتح لكثير من أبواب الخير، وغلق لكثير من أبواب الشر، فإن الناس يتكلفون تكلفا كثيرا، يؤدي إلى أن يكون ذلك الصنع محرما.والله سبحانه وتعالى أعلم.

كتبه المرتجي من ربه الغفران: أحمد بن زيني دحلان - مفتي الشافعية بمكة المحمية - غفر الله له، ولوالديه، ومشايخه، والمسلمين.
(الحمد لله) من ممد الكون أستمد التوفيق والعون.نعم، يثاب والي الامر - ضاعف الله له الاجر، وأيده بتأييده - على منعهم عن تلك الامور التي هي من البدع المستقبحة عند الجمهور.
قال في (رد المحتار تحت قول الدار المختار) ما نصه: قال في الفتح: ويستحب لجيران أهل الميت، والاقرباء الاباعد، تهيئة طعام لهم يشبعهم يومهم وليلتهم، لقوله (ص): اصنعوا لآل جعفر
طعاما

(ما فقد جاءهم ما يشغلهم.حسنه الترمذي، وصححه الحاكم.
ولانه بر ومعروف، ويلح عليهم في الاكل، لان الحزن يمنعهم من ذلك، فيضعفون حينئذ.وقال أيضا: ويكره الضيافة من الطعام من أهل الميت، لانه شرع في السرور، وهي بدعة.روى الامام أحمد وابن ماجه بإسناد صحيح، عن جرير بن عبد الله، قال: كنا نعد الاجتماع إلى أهل الميت وصنعهم الطعام من النياحة.اه.

وفي البزاز: ويكره اتخاذ الطعام في اليوم الاول والثالث وبعد الاسبوع، ونقل الطعام إلى القبر في المواسم إلخ.وتمامه فيه، فمن شاء فليراجع.والله سبحانه وتعالى أعلم.كتبه خادم الشريعة والمنهاج: عبد الرحمن بن عبد الله سراج، الحنفي، مفتي مكة المكرمة - كان الله لهما حامدا مصليا مسلما


Terjemahan kalimat yang telah digaris bawahi atau ditulis tebal berwarna merah di atas, di dalam Kitab I'anatut Thalibin :


1. Ya, apa yang dikerjakan orang, yaitu berkumpul di rumah keluarga mayit dan dihidangkannya makanan untuk itu, adalah termasuk Bid'ah Mungkar, yang bagi orang yang melarangnya akan diberi pahala.


2. Dan apa yang telah menjadi kebiasaan, ahli mayit membuat makanan untuk orang-orang yang diundang datang padanya, adalah Bid'ah yang dibenci.


3. Dan tidak diragukan lagi bahwa melarang orang-orang untuk melakukan Bid'ah Mungkarah itu (Haulan/Tahlilan : red) adalah menghidupkan Sunnah, mematikan Bid'ah, membuka banyak pintu kebaikan, dan menutup banyak pintu keburukan.


4. Dan dibenci bagi para tamu memakan makanan keluarga mayit, karena telah disyari'atkan tentang keburukannya, dan perkara itu adalah Bid'ah. Telah diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Ibnu Majah dengan sanad yang Shahih, dari Jarir ibnu Abdullah, berkata : "Kami menganggap berkumpulnya manusia di rumah keluarga mayit dan dihidangkan makanan , adalah termasuk Niyahah"


5. Dan dibenci menyelenggarakan makanan pada hari pertama, ketiga, dan sesudah seminggu dst.


_______________________________________________
[Buku "Masalah Keagamaan" Hasil Muktamar/ Munas Ulama NU ke I s/d XXX (yang terdiri dari 430 masalah) oleh KH. A. Aziz Masyhuri ketua Pimpinan Pusat Rabithah Ma'ahid Islamiyah dan Pengasuh Ponpes Al Aziziyyah Denanyar Jombang. Kata Pengantar Menteri Agama Republik Indonesia : H. Maftuh Basuni]

DASAR HUKUM DAN DALIL SHOLAWAT

Ada sebagian orang atau sekelompok orang Islam menganggap bahwa Sholawat itu tidak pernah diajarkan oleh Nabi, mungkin bagi sebagian besar Muslim akan bereaksi terhadap anggapan sekelompok orang tersebut entah itu dengan caci maki, mencela, menertawakan atau mendiamkannya. Namun reaksi yang paling bijak adalah dengan menelaahnya melalui dalil-dalil yang ada. Benarkah Sholawat Nabi itu tidak diajarkan oleh Rosulullah??

Berikut penjelasannya:

Pertanyaan: Mana dalilnya?
Jawaban : 
 AL-QUR'AN
Surah Al-Ahzâb ayat 56:







Artinya: "Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya".
Maksud Allah bershalawat kepada Nabi Saw. adalah dengan memberi rahmat-Nya; bershalawat malaikat kepada Nabi Saw. dengan memintakan ampunan; sedangkan bershalawatnya orang-orang mu'min kepada Nabi Saw. dengan berdoa supaya diberi rahmat seperti dengan per-kataan "Allâhumma Shalli 'alâ Muhammad"
Adapun salam kepada Nabi Saw. adalah dengan mengucapkan "Assalâmu Alayka Ayyuh al-Nabiyy."

Al-Hadits




Artinya: "Bershalawatlah kamu kepadaku, karena sha-lawatmu itu menjadi zakat (penghening jiwa pembersih dosa) untukmu." (HR. IbnMurdaweh)







Artinya: "Saya mendengar Nabi Saw. Bersabda janganlah kamu menjadikan rumah-rumahmu sebagai kuburan, dan janganlah kamu menjadikan kuburanku sebagai per-sidangan hari raya. Bershalawatlah kepadaku, karena shalawatmu sampai kepadaku dimana saja kamu berada." (HR. Al-Nasâ'i, Abû Dâud dan dishahihkan oleh Al-Nawâwî).
Diterangkan oleh Abû Dzar Al-Harawî, bahwa perintah shalawat ini terjadi pada tahun kedua Hijriyah. Ada yang berkata pada malam Isra' dan ada pula yang berkata dalam bulan Sya'ban. Dan oleh karena itulah bulan Sya'ban dinamai dengan "Syahrush Shalâti" karena dalam bulan itulah turunnya ayat 56, Surah ke-33 Al-Ahzâb.

Dari dalil-dalil di atas sudah jelas bahwa Sholawat itu merupakan perintah Rosulullah S.A.W bahkan perintah Allah S.W.T

richank-meister: E-JURNAL

richank-meister: E-JURNAL: Dalam laman ini berisi link-link beberapa jurnal elektronik dari berbagai bidang ilmu dan dalam berbagai bahasa. Selamat menikmati. :) ...

Kamis, 06 Desember 2012

PERILAKU KONSUMEN DALAM BISNIS RITEL

MAKALAH DARI:

Firman Abdul Wafi 
Febi Ainun Najib Safi’I  
Muhammad Musa Akbar      



BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Kata ritel berasal dari bahasa Prancis, ritellier, yang berarti memotong atau memecah sesuatu. Usaha ritel atau eceran dapat dipahami sebagai semua kegiatan yang terlibat dalam penjualan barang atau jasa secara langsung kepada konsumen akhir untuk penggunaan pribadi dan bukan penggunaan bisnis(Christina Whidya Utami, 2008). Ritel juga merupakan perangkat dari aktivitas-aktivitas bisnis yang melakukan penambahan nilai terhadap produk-produk dan layanan penjualan kepada konsumen untuk penggunaan atau konsumsi perseorangan maupun keluarga.
Bisnis ritel atau eceran mengalami perkembangan cukup pesat, ditandai dengan semakin banyaknya bisnis ritel tradisional yang mulai membenahi diri menjadi bisnis ritel modern maupun munculnya bisnis ritel modern yang baru. Perubahan dan perkembangan kondisi pasar juga menuntut peritel untuk mengubah paradigma lama pengelolaan ritel tradisional menuju paradigma pengelolaan ritel modern.
Pengelolaan ritel modern tentunya membutuhkan infrastuktur yang memadai terutama kebutuhan teknologi tinggi. Teknologi tinggi ini memungkinkan ritel membangun sistem informasi canggih yang mendukung pengelolaan sistem persediaan yang lebih efisien sehingga manajemen ritel mampu menyediakan berbagai produk makanan dan minuman yang selalu segar. Teknologi juga memudahkan pelayanan, pemrosesan, serta pengantaran layanan yang lebih cepat. Teliti dan memuaskan pelanggan.
Oleh karena itu pembahasan dalam karya tulis ini membahas lebih dalam tentang perilaku konsumen. Bagaimana keinginan mereka dan apa saja yang membuat mereka melakukan keputusan pembelian khususnya di usaha ritel. Pembeli adalah fokus utama dalam bisnis ritel, dan perlu mempelajari dan mengetahui bagaimana sikap dan perilaku konsumen/pelanggan.
1.2  Rumusan Masalah
Berdasarkan pemaparan latar belakang di atas, dapat diketahui beberapa rumusan masalah, sebagai berikut:
1.2.1        Tren Belanja dalam Masyarakat
1.2.2        Keuntungan dan Kelemahan Bisnis Ritel
1.2.3        Faktor-faktor yang Mendorong Majunya Toko Eceran
1.2.4        Pengenalan Karakter Manusia Secara Umum
1.2.5        Mengapa Mempelajari Perilaku Konsumen
1.2.6        Pendekatan Perilaku Konsumen Sebagai Disiplin Ilmu
1.2.7        Pembelajaran Konsumen



BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Tren Belanja dalam Masyarakat
Perilaku konsumen sekedar mengenai pembelian barang. Lebih dari itu, perilaku konsumen adalah suatu hal yang dinamis, yang mencakup suatu hubungan interaktif antara efektif dan kognitif, perilaku dan lingkungan (Sopiah,2008)
Konsumen mungkin sekali membeli secara impulsif, dan tidak hanya dipengaruhi oleh keluarga dan teman-teman, oleh berbagai pemasang iklan dan model peran, tetapi juga oleh suasana hati, keadaan dan emosi (Schiffman dan Kanuk.2008)
Menurut dua pendapat diatas bahwasanya perilaku konsumen itu terkesan tidak bisa menjadi suatu kejadian yang tetap dan terus menerus. Akan tetapi hal itu akan terus berubah akibat dari penawaran menarik yang diberikan produsen, bahkan dari minat dan keinginan dari konsumen yang bersangkutan.
Konsumen saat ini menjadi Raja yang harus dilayani setiap kebutuhannya oleh para penjual/produsen. Keinginan masyarakat dapat berubah begitu cepat tanpa memandang waktu dan keadaan. Maka dari itu para penjual/produsen harus melakukan inovasi yang sesuai dengan tren masyarakat atau bahkan membuat tren itu sendiri.
Menurut Peter dan Olson, khusus dalam pembelian ritel terdapat pola perilaku tertentu pada konsumen, pola perilaku terbagi atas 7 kategori. Pola perilaku tersebut bisa berubah urutannya. Pola perilaku tersebut digambarkan sebagai berikut.
Consumption stage
Type of behavior
Example of behavior
Perilaku sebelum pembelian
Information contact
Membaca koran, majalah
Mendengarkan siaran radio
Mendengarkan dan melihat TV
-Mendengar dari sales dan teman.
Funds access
Mengambil uang dari bank atau ATM.
Menggunakan credit card.
Menggunakan pinjaman dari bank.
Perilaku pembelian
Store contact
Mencari lokasi belanja.
Pergi menuju lokasi.
Masuk ke lokasi belanja.
Mencari produk di dalam toko.
Product contact
Menemukan produk yang dicari.
Membawa produk ke kasir.
Transaction
Pembayaran dengan uang yang tersedia.
Membawa produk ke lokasi pembayaran .
Consumption
Menggunakan produk.
Membuang sisa produk.
Pembelian ulang.
communication
Memberi informasi kepada orang lain mengenai produk.
Mengisi kartu garansi.
Memberikan info lainnya pada retailer.

Tabel 2.1 : perilaku konsumen dalam melakukan pembelian produk dari dua tahap.

1.      Perilaku sebelum Pembelian (Pre-Purchase)
Pada tahap sebelum pembelian, ada  2 tahapan perilaku konsumen,yaitu : a) konsumen mencari sebanyak-banyaknya dengan membaca Koran, majalah, buletin dll. Mendengarkan siaran radio melihat TV, mencari informasi dari teman, orang tua, pramuniaga dll. b) perilaku pada tahap kedua, konsumen berusaha mendapatkan uang : mengambi uang tunai d bank, mengambil uang di ATM, meminjam temen, menggunakan kartu kredit atau kartu debit bank tertentu.
2.      Perilaku Pembelian (purchase)
Ada lima tahap perilaku konsumen, yaitu:
a.       Store contact
Pada tahap ini, konsumen memilih lokasi belanja yang dirasa cocok, mendatangi toko yang dirasa cocok, memasuki toko, dan memilih produk yang dicari.
b.      Product contact
Pada tahap ini, konsumen memilih dan menemukan produk yang dicari, lali membawa kekasir untuk melakukan pembayaran.
c.       Transaction
Tahap ini konsumen membayar barang yang telah dipilih di kasir dan membawa produk untuk dikonsumsi.
d.      Consumption
Pada tahap ini, konsumen menggunakan produk, membuang sisanya jika ada, dan melakukan pembelian ulang jika konsumen merasa puas
e.       Communication
Di  tahap terakhir ini, kkonsumen memmberikan informasi tentang produk baru kepada orang lain; mengisi kartu garansi (kalau ada) dan memberikan informasi tentang harga, produk, pelayanan, dan lain-lain kepada peritel.
1.      Citra toko
Citra toko bsa dianalisis dari dua sudut pandang. Yaitu internal impression dan external impression.
a)      Internal impression meliputi citra toko secara fisik; wujud fisik gedungnya, layout, interior, eksterior, etalase, toilet, penempatan barang.
b)      External impression meliputi reputasi pemilik toko, kinerja manajemen dan karyawan.
2.      Atmosfer toko
Atmosfer toko bisa dibangun melalui lima alat indera manusia, yaitu mata, telinga, hidung, alat untuk menyentuh (tangan/kulit) dan lidah (untuk rasa).
Interiordan eksterior toko dengan desain dan penggunaan warna yang serasi.
Penggunaan wangi-wangian yang cocok bisa dirasakan pengunjung sebagai atmosfer yang menyenangkan. Pengunjung toko akan merasa betah berada dalam toko.
Konsumen lebih menyukai toko yang memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada pengunjung toko untuk tidak sekedar melihat barang yang ada ditoko dengan begitu, konsumen akan merasa lebih puas.
Konsumen akan lebih puas jika diberi kesempatan untuk mencicipi atau diizinkan mencoba pakaian sebelum membeli.
3.      Teater  toko
Teater toko bisa dianalisis dari dua sisi, yaitu tema dekor (décor theme) dan event toko (store event)
Interior toko maupun eksterior toko sebaiknya didesain sedemikian rupa sehingga memiliki tema yang jelas, yang disesuaikan dengan peristiwa (moment) tertentu.

2.2  Keuntungan dan Kelemahan Bisnis Ritel
1.      Keuntungan Bisnis Ritel
Beberapa keuntungan daril bisnis/usaha ritel adalah:
a)      Modal yang diperlukan cukup kecil dengan rentabilitas besar.
b)      Pedagang-pedagang eceran kecil menganggap bahwa pendapatannya dari usaha tersebut merupakan pendapatan tambahan atau kadang-kadang hanya iseng atau mengisi waktu luang.
c)      Tempat pedagang-pedagang eceran kecil biasanya paling strategis. Mereka biasanya mendekatkan tempat ushanya dengan tempat berkumpulan konsumen (the center of consumers).
d)     Hubungan antara pedagang eceran kecil dan konsumen cukup kuat, misalnya kita bisa melihat para pembeli di warung kopi yang mengobrol dengan intim sekali dengan pemilikinya.
2.      Kelemahan Bisnis Ritel
selain berbagai keuntungan sebagaiman disebutkan diatas, bisnis ritel memiliki kelemahan, antara lain:
a)      Kurangnya keahlian
b)      Administrasi dalam pembukuan kurang diperhatikan sehingga uang yang ada tidak terlacak.
c)      Pedagang kecil tidak mampu mengadakan promosi dengan baik sehingga keberadaannya tidak diketahui oleh konsumen.
3.      Faktor yang Mendorong Majunya Bisnis Eceran
Ada tiga faktor yang bisa mendorong toko-toko eceran untuk bisa lebih maju, antara lain:
1.      Lokasi Toko
Lokasi toko yang strategis merupakan faktor pendorong yang menjanjikan. Jika manajemen toko mampu memanfaatkan hal itu dengan baik, usaha toko akan mengalami kemajuan yang berarti.
2.      Harga yang Tepat
Bisnis ritel biasanya menjual produk-produk yang standar untuk kebutuhan masyarakat. Oleh karena itu, masyarakat bisa mengontrol harga dengan baik. Jika toko menetapkan harga tinggi, konsumen akan pindah ke toko yang lainnya.
3.      Tata Ruang Toko
Untuk menyeimbangkan tata ruang toko yang bagus, toko harus menyeimbangkan beberapa tujuan yang seringkali menjadi konflik. Tata ruang toko harus memungkinkan pelanggan untuk memutari toko dan membeli lebih banyak barang daripada yang direncanakan.
a.       Jenis-jenis desain
Jenis desain bukanlah maksud daripada ekstetika, akan tetapi untuk memudahkan para pelanggan untuk mencari produk yang mereka beli. Jenis desain antara lain:
-          Bentuk Lintasan Balap
Bentuk ini memudahkan pelanggan mengunjungi berbagai departemen. Tata letak arena lomba juga dikenal sebagai loop, merupakan jenis desain toko yang memberika lorong untuk memudahkan jalannya pelanggan, dengan akses ke pintu masuk toko.
-          Bentuk Bebas
Juga dikenal sebagai tata ruang butik, yaitu menyusun perlengkapan tetap dan lorong secara simetris. Ini biasanya digunakan pada toko kecil atau pada departemen di toko besar.
b.      Area-area Khusus
Selain area dimana sebagian besar barang-barang dipamerkan dan disimpan, ada juga toko yang menyiapkan area-area khusus yaitu area didalam toko yang bertujuan untuk mendapatkan perhatian dari pelanggan. Area-area ini meliputi:
-          Etalase Ujung
Etalase yang terletak di ujung lorong yang dirancang untuk menarik perhatian konsumen.
-          Lorong Promosi
Lorang yang digunakan untuk memamerkan barang-barang yang sudah dipromosikan.
-          Perlengkapan Tetap yang berdiri bebas dengan patung model
Biasanya diletakkan di lorong dan didesain untuk mendapatkan perhatian pelanggan dan membawanya ke departemen atau bagian yang memajang barang dagangan tersebut.
-          Jendela
Jendela bisa menjadi komponen penting dari tata ruang toko. apabila digunakan dengan tepat, etalase jendela bisa membantu menarik pelanggan untuk masuk kedalam toko.
-          Area Utama Penjualan
Tempat didalam toko dimana para konsumen bisa membeli barang-barang. Ara ini bisa menjadi bagian yang paling penting dari toko, karena pelanggan biasa menunggu sampai transaksi selesai.
-          Dinding
Karan seringkali ruangan ritel langka dan mahal, beberapa ritel telah berhasil meningkatkan kemampuannya untuk menyimpan stok tambahan, memamerkan barang-barang, dan memberikan kesan kreatif dengan memanfaatkan ruangan dinding.
c.       Perencanaan Ruangan
Alokasi ruangan untuk setiap departemen dan kategori barang dagangan merupakan perencanaan toko yang sangat penting, bahkan merupakan hal yang sangat kompleks dan sulit untuk diputuskan.
d.      Teknik-teknik Penyajian Barang
Terdapat beberapa metode bagi ritel untuk menyajikan barang bagi pelanggan. Untuk memutuskan apa yeng terbaik untuk situasi khusus, para perencana toko harus memerhatikan empat masalah yaitu; barang harus dipamerkan sedemikian rupa sesuai dengan kesan toko, para perencana harus memperhatikan sifat produk, kemasan seringkali menentukan bagaimana produk dipamerkan, dan kemungkina keuntungan produk mempengaruhi keputusan untuk memamerkan barang.
-          Penyajian barang yang berorientasi pada ide
Metaode yang menyajikan barang-barang berdasarkan pad aide khusus atau kesan toko.
-          Penyajian Gaya atau jenis barang
Teknik pengaturan stok yang paling umum digunakan oleh ritel penyajian berdasarkan gaya atau jenis barang. Toko diskon, makanan, peralatan, dan obat menggunakan metode ini untuk hampir setiap kategori barang.
-          Penyajian warna
Teknik penyajian yang berani adalah dengan warna, contohnya di musim dingin toko wanita bisa memamerkan semua pakaian dengan warna putih untuk memebri tahu pelanggan bahwa toko itu adalah tempat untuk membeli baju musim dingin.
-          Penentuan Lini harga
Strategi penentuan lini harga ini membantu para pelanggan mencari barang dengan mudah pada harga yang ingin mereka bayar.
-          Pengaturan barang secara vertical
Barang yang disajikan secara vertical dengan menggunakan dinding dan gondola yang tinggi. Banyak pelanggan yang memilik perilaku belanja sama seperti saat mereka membaca Koran-dari kiri ke kanan.
-          Pengaturan barang tonase
Teknik pengaturan barang tonase (tonnage merchandise) adalah teknik memamerkan barang dimana banyak barang dipamerkan bersama dan dalam kuantitas yang besar.
-          Penyajian dibagian depan
Metode memamerkan barang dimana ritel menunjukan bagian depan produk agar bisa menarik para pelanggan.
-          Perlengkapan tetap
-          Tujuannya adalah efisiensi dan sekaligus membantu dalam menandai area penjualan dan membangun area lalu lintas pelanggan dalam beberbelanja.
e.       Penciptaan Suasana
Penciptaan suasana (atmospherics) berarti desain lingkungan untuk merancang respons emosional dan persepsi pelanggan dan untuk memegaruhi pelanggan dalam membeli barang. Penciptaan suasana dapat dilakukan antara lain:
-          Komunikasi Visual
Terdiri dari atas grafik, papan tanda, efek panggung, baik di toko dan di jendela toko membantu meningkatkan penjualan dengan memberikan informasi tentang produk dan menyarankan pembeli barang.
-          Pencahayaan
Pencahayaan toko bukan merupakan hal yang sederhana, pencahayaan digunakan untuk memberikan sorotan pada barang  dagangan. Pencahayaan toko yang baik akan mempengaruhi keinginan pelanggan untuk berbelanja.
-          Warna
Penggunaan warna yang kreatif bisa meningkatkan kesan ritel dan membantu menciptakan suasana hati.
-          Musik
Banyak keputusan membeli didasarkan pada emosi, dan baud an music memiliki dampak yang besar bagi emosi konsumen.

2.3  Teori Kepribadian
Poin ini meninjau kembali secara singkat tiga teori kepribadian yang utama : (a) teori Freud, (b) teori neo-Freud, dan (3) teori sifat.
a.       Teori Freud
Teori psikoanalistis mengenai kepribadian dari Sigmund Freud merupakan dasar dari psikologi modern. Teori ini didasarkan atas dasar pemikiran bahwa kebutuhan atau dorongan yang tidak disadari, terutama dorongan seksual dan dorongan biologis lainnya, merupakan inti dari motivasi dan kepribadian manusia.
-          Id, Superego, dan Ego
Didasarkan kepada analisisnya, freud mengemukakan bahwa kepribadian manusia terdiri dari tiga sistem yang saling mempengaruhi: id, superego, dan ego. Konsep id dirumuskan sebagai “gudang” dari berbagai dorongan primitif dan impulsif- kebutuhan fisiologis dasar seperti rasa haus, rasa lapar, dan seks- yang diusahakan individu untuk dipenuhi segera terlepas dari apa cara-cara khusus yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan itu.
Berlawanan dengan id, konsep superego dirumuskan sebagai pernyataan diri individu mengenai moral dank ode etika yang berlaku dalam masyarakat. peran superego adalah menjaga agar individu tersebut memuaskan kebutuhan dengan cara-cara yang dapat diterima masyarakat. Jadi, super ego adalah merupakan semacam “rem” yang mengendalikan atau mencegah berbagai kekuatan id yang impulsive. Akhirnya, ego merupakan pengendalian individu secara sadar. Fungsinya sebagai pemantau dalam diri yang berusaha menyeimbangkan tuntutan id yang bersifat impulsif dan kendala sosiobudaya atas superego.
-          Teori Freud dan “kepribadian produk”
Dorongan pada manusia sebagian besar tidak disadari dan bahwa para konsumen terutama tidak menyadari alasan mereka yang sebenarnya mengapa membeli barang atau jasa yang mereka beli. Dengan kata lain apa yang dibeli konsumen dan kepemilikan barang konsumen sebagai cerminan dari kepribadian individu yang bersangkutan.
Jadi dalam bisnis retail hendaknya selalu menjual barang-barang yang diinginkan dalam pikiran konsumen. Serta melakukan pelayanan yang memuaskan dengan tempat (toko) yang memadai.
b.      Teori kepribadian neo-Freud
Beberapa rekan Freud tidak sepakat dengan pendapatnya bahwa kepribadian terutama bersifat naluriah dan seksual. Sebaliknya penganut neo-Freud ini percaya bahwa hubungan sosial menjadi dasar pembentukan dan pengembangan kepribadian.
-          Individu yang patuh adalah mereka yang ingin mendekati orang lain (mereka ingin disayangi, dibutuhkan, dan dihargai)
-          Individu yang agresif adalah mereka yang ingin menjauhi orang lain (mereka ingin mengungguli dan dikagumi)
-          Individu yang ingin lepas adalah mereka yang ingin lepas dari orang lain yang dulu berhubungan dengannya (mereka menginginkan kebebasan, kepercayaan diri, mencukupi kebutuhan sendiri, da bebas dari kewajiban)
c.       Teori Sifat
Teori sifat merupakan awal penting berpisahnya pengukuran kualitatif yang menjadi cirri khas gerakan pengikut Freud dan neo-Freud. Orientasi teori sifat terutama bersifat kuantitatif atau empiris; teori ini memfokuskan pada pengukuran kepribadian menurut karakteristik psikologis yang khusus, yang disebut sifat. Sifat didefinisikan sebagai “cara yang khas dan relatif bertahan lama yang dapat membedakan seorang individu dengan individu lainnya.
Tes sifat kepribadian tunggal  yang dipilih (yang hanya mengukur satu sifat, seperti rasa percaya diri) sering disusun terutama untuk dipakai dalam studi perilaku konsumen. Tes kepribadian yang sangat sesuai dengan kebutuhan tertentu ini mengukur berbagai sifat seperti keinovatifan konsumen (seberapa besar kemauan seseorang menerima berbagai pengalaman baru), materialism konsumen (tingkat kecenderungan konsumen pada “kepemilikan duniawi”), dan etnosentrisme konsumen (kemungkinan konsumen untuk menerima dan menolak produk buatan luar negeri).



2.4 Pembelajaran Konsumen
      Pembelajaran adalah aktivitas manusia yang dilakukan sepanjang hidupnya, bahkan pada saat manusia berada dalam kandungan. (lefton 1982 dalam sopiah 2008) mendefinisikan pembelajaran terjadi sebagai akibat dari pengalaman.

2.5 Pendekatan Pembelajaran Konsumen
a.   Teori pembelajaran perilaku
      Teori ini mengasumsikan bahwa pembelajaran terjadi respons seseorang terhadap kejadian-kejadian diluar dirinya. Jadi, teori itu tidak memperhatikan proses dalam pikiran manusia, tetapi dalam perilaku yang bisa diamati.
      Pandangan tersebut menghasilkan 2 aliran, yaitu:
-          Classical conditioning
Aliran ini mengacu pada pembelajaran dimana stimulus yang mengakibatkan respons tertentu dipasangkan dengan stimulus lain yang pada mulanya tidak menghasilkan respon bila berdiri sendiri. Kemudian ditambah dengan stimulus yang kedua yang membantu memberi penekanan akan kesan atas stimulus pertama sebelumnya.
Contohnya toko yang memiliki penjelasan akan produknya yang sedang promo atau diskon secara visual dan dapat diperhatikan konsumen secara leluasa ditoko.
-          Instrumental conditioning
Aliran ini mengutamakan kepuasan dalam menggunakan atau mengkonsumsi produk. Stimulus yang menghasilkan respon positif yang paling memuaskan yang akan disimpan  dalam memori konsumen.
b.   Teori Pembelajaran Kognitif
      Pendekatan teori ini menwkankan kegiatan mental dalam pembelajaran yakni bagaimana informasi yang diterima seseorang diproses dan disimpan dalam memorinya dalam waktu yang lama. Pembelajaran terjadi atas empat unsure, yaitu:
-          Motivasi
Motivasi berakar dari kebutuhan dan tujuan. Jadi, motivasilah yang menggerakkan subjek ajar untuk mengajar.
-          Cues (isyarat/pedoman)
Adalah stimulus yang mengarahkan motif. Misalnya, iklan tentang rokok dengan kadar nikotin rendah akan berguna sebagai cues bagi mereka yang gemar merokok, tetapi mengkhawatirkan bahaya nikotin.
-          Respon
Adalah bagaimana seseorang berperilaku sebagai reaksi dari dorongan atau cues. Respon tidak terikat pada keutuhan. Kebutuhan atau motif akan menimbulkan bermacam-macam respon.
-          Reinforcement
Meningkatkan kemungkinan akan munculnya respon spesifik dimasa yang akan datang sebagai hasil stimulus tertentu sebelumnya.
d.      Teori pembelajaran menghafal ikon
      teori ini mengatakan bahwa pembelajaran bisa terjadi tanpa kondisi yang ditawarkan, melainkan penekanan pesan yang dilakukan pemasar atau pengiklan dalam produk yang ditawarkan, sehingga membentuk brand awareness bagi konsumen kelak jika dia membutuhkan atau ingin membeli produk untuk dirinya dan orang lain.
e.       Teori Pembelajaran Vicarious
Seseorang belajar tanpa harus menerima ganjaran atau hukuman, seperti diyakini oleh pengikut instrumental conditioning. Jika seseorang melihat atau mendengar dan mengetahui bahwa orang lain mengalami kepuasan saat menggunakan produk, seolah-olah dia juga mengalaminya, dan meyakini penggunaan produk yang sama akan memberikan kepuasan.

2.6 Loyalitas Pada Merk
      (Kindra dkk 1994, dalam Sopiah 2008) mengemukakan bahwa ada hubungan yang erat antara pembelajaran dan loyalitas pada merk. Hal itu dikarenakan karena merk  melibatkan pertimbangan kognitif an evaluative yang juga salah satu fungsi pengambilan keputusan pembelian.
      Menemukan beberapa hal sebagai hasil penelitian bahwa pergeseran merk muncul karena:
a.      Persepsi negatif terhadap kualtitas produk
b.      Harga
c.      Ketidakpuasan atas kinerja produk secara keseluruhan
d.     Layanan dan kenyamanan yang tidak memadai ditempat panjualan produk
e.      Hambatan fisik maupun psikologis untuk mendapatkan produk
f.       Memang ada maksud untuk berhenti memakai merk yang biasa dipakai untuk beralih ke merk lainnya.

2.7 Cognitive Dissonance
      Bisa terjadi apabila informasi atau stimulus yang diterima konsumen berbeda dengan apa yang sudah disimpan dalam memorinya sehingga tidak terjadi asosiasi positif.


BAB III
PENUTUP
3.1  Kesimpulan
Perilaku konsumen terkesan tidak bisa menjadi suatu kejadian yang tetap dan terus menerus. Akan tetapi hal itu akan terus berubah akibat dari penawaran menarik yang diberikan produsen, bahkan dari minat dan keinginan dari konsumen yang bersangkutan.
Perilaku kosumen saat melakukan pembelian produk ada dua tahapan yaitu, perilaku sebelum pembelian dan perilaku pembelian
Ada tiga faktor yang mempengaruhi toko ritel untuk bisa lebih maju, antara lain lokasi toko yang strategis, harga yang tepat, dan tata ruang toko.
Konsumen sebagai manusia mempunyai kepribadian dalam mereka menentukan pilihannya. Ada tiga teori yang menjelaskan akan hal tersebut yaitu, (1) teori Freud, (2) teori neo-Freud, dan (3) teori Sikap.



DAFTAR PUSTAKA

Sopiah,dan Syihabudhin. 2008. Manajemen Bisnis Ritel. Yogyakarta: ANDI
Sciffman, dan Kanuk. 2008. Perilaku Konsumen. Jakarta: Indeks
Utami, Christina W. 2008. Manajemen Ritel. Jakarta: Salemba Empat